Nasionalisme Pemuda
Untuk Mencegah Kehancuran Di Era Digital
Oleh Ayesha
Ad’hanirizki Adam
Kemajuan pesat
teknologi digital saat ini di seluruh negara-negara di dunia membawa berbagai
dampak perubahan. Kondisi tersebut juga berlaku untuk Indonesia
yang sedang mempersiapkan diri sebagai negara ekonomi digital.
Namun Perkembangan teknologi yang terjadi
saat ini, membuat generasi muda Indonesia menjadi asing, dan seolah tidak
peduli dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi sosial yang sebelumnya terjadi
secara tatap muka, kini telah berubah ke arah digital. Untuk itulah, diperlukan
pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan dan rasa nasionalisme kepada Pemuda
semua, agar tidak melupakan identitas dan sejarah bangsa.
Nasionalisme pada
zaman dahulu adalah cerita tentang kepahlawanan, yang lebih mementingkan
kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi. “Lalu bagaimana dengan
nasionalisme di era digital saat ini ?
Kita Ketahu lebih dari
50 persen atau 143 juta orang terutama generasi muda terhubung dengan internet.
Maka dari itu nasionalisme generasi muda dalam bidang teknologi harus
ada.
Contohnya bagaimana
inovasi yang dilakukan mampu memberikan dampak ekonomi yang besar, mempermudah
dalam berbagi urusan kehidupan, dan mengangkat kedaulatan teknologi bangsa
Indonesia. Inovasi yang dilakukan oleh anak muda Indonesia sangat luar biasa.
Usahanya juga ikut memikirkan sisi social.
Ada 143,26 juta jiwa
penduduk Indonesia sudah mengakses internet. Di era digital ini, orang-orang
rela mengeluarkan biaya seperti paket data internet atau memasang wi-fii untuk
memperoleh informasi.
Bahkan saat ini
informasi masuk ke dalam kebutuhan pokok. Kalau dulu kebutuhan pokok kita ada 3
yaitu sandang, pangan, dan papan, sekarang kebutuhan pokok kita bertambah jadi
4, yaitu sandang, pangan, papan, dan informasi. Hal ini terlihat dari jumlah
pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat sebesar 11 juta orang per
tahunnya.
Pengguna internet dari
kalangan pemuda di Indonesia berasal dari golongan usia 13 sampai dengan 34
tahun di mana 87 persennya mengakses media sosial.
Hal ini menunjukkan
bahwa pemuda Indonesia, telah melekat erat dengan dunia digital dalam kehidupan
sehari-hari. Contoh kehidupan era digital antara lain penggunaan e-money untuk
mengakses jalan tol, belanja online, dan Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK).
Tapi sayangnnya Pemuda
di era digital saat ini, belum bisa mengendalikan teknologi, akan tetapi
malah dikendalikan oleh teknologi.
Padahal Sumpah pemuda
merupakan salah satu tonggak perjuangan nasional yang digagas oleh para pemuda
di nusantara. Secara konsep definisi. menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009
tentang Kepemudaaan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia berusia 16
sampai 30 tahun yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan.
Dalam perjalanannya,
para pemuda memegang peranan penting bagi kemajuan bangsa. Tidak terkecuali di
Era digital, dimana peran pemuda tidak bisa dipisahkan dengan internet dan
media sosial
Di era digital,
internet hampir dapat diakses oleh siapa saja tidak terkecuali oleh golongan
pemuda. Faktanya hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2017 yang
dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa 63,47 persen
pemuda pernah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir.
Faktanya berdasarkan
tipe daerah, 76,60 persen pemuda yang tinggal di daerah perkotaan pernah
mengakses internet dalam tiga bulan terakhir dan hanya 23,40 persen pemuda di
daerah perkotaan yang tidak pernah mengakses internet dalam tiga bulan
terakhir.
Sementara pada daerah
perdesaan pemuda yang mengakses internet tidak sampai setengahnya, yaitu hanya
47,39 persen. Hal ini dikarenkan kurangnya infrastruktur penunjang internet
seperti akses sinyal provider telekomunikasi mempengaruhi
angka penggunaan internet yang kecil.
Sedangkan jika dilihat
dari tujuan mengakses internet, 83,13 persen bertujuan untuk mengakses
media sosial/jejaring sosial dan hanya 16,87 persen yang mengakses
internet tidak untuk media sosial. Selain itu, 66,09 persen mengakses
internet untuk mendapatkan informasi/berita.
Data-data di atas
mengindikasikan bahwa internet merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan pemuda. Hal ini dapat dilihat dari besarnya persentase pemuda yang
sudah mengakses internet.
Menanamkan
Nasionalisme
Semenatara itu
informasi diperoleh dari internet sangat beragam, baik informasi yang bersifat
fakta maupun informasi yang menjurus pada kebohongan (hoax).
Oleh karena itu
Pengguna harus dapat menyaring informasi yang diterima agar tidak terjebak
dalam arus informasi yang meruntuhkan jiwa nasionalisme kebangsaan. Salah
satunya adalah ujaran kebencian dan berita hoax yang mudah
sekali diakses.
Solusinya
Potensi penggunaan
internet di Indonesia memang semakin besar, dengan menumbuhkan Nasionalisme
kepada pengguna ineternet pemuda sangat penting. Sehingga pemudaad
menggunakan internet dengan pertimbangan baik dan buruk demi kepentingan bangsa
dan Negara.
Untuk itulah harus ada
tindakan yang dilakukan pemerintah, yang harus menyasar kaum muda tersebut
yaitu :
Pertama kampanye besar
besaran untuk memumbuhkan dan membangkitkan nasionalisme di berbagai media,
baik of air maupun on air.
Kedua Diadakan
training untuk pemuda Khususnya SMK dan Mahasiswa tentang nilai nilai
kebangsaan.
Ketiga merubah sistem
yang saat ini terjadi di SD, SMP dan SMA, untuk tidak mengejar hasil tapi
proses pembentukkan karakter.
Hal yang ketiga paling
berat dilaksanakan, karena terbatasnya infrastruktur pendidikan, Sehingga
antara kurikulum dan kenyataan selalu berbeda. Pada akhirnya nilai lah yang
berkuasa, dan menentukan masa depan siswa. Karena nilailah lah, maka tumbuhnya
bisnis bimbingan belajar yang mencapai ratusan trilyun.
Akhirnya hasil yang
menentukan segalanya, karena prialaku dan karakter siswa di pinggirkan kalah
dengan kognitif siswa. Bahkan dibuatlah test paling sulit, agar bisa menyeleksi
siswa yang memiliki hasil nilai ujian tinggi, bukan moral atau prilakunya yang
tinggi.
Oleh karena masyarakat
digital senang instan, maka pada akhirnya nasionalisme tergusur, akibat
matrealisme dan hasilisme, sehingga menyebabkan terpecah belahnya
Indonesia, semakin cepat di era digital.
Oleh karena itu
penting melakukan tiga langkah diatas, karena pemudalah dengan sumpah
pemudanya, berhasil menjadikan satu Indonesia, jangan sampai Indonesia hancur
ditangan pemuda, karena pemuda mampu berbuat segalanya.
Membangun pemuda
dengan menanamkan nilai nasionalisme agar siap memasuki era Digital, sehingga
pemuda bisa menciptakan persatuan dan kesatuan Bangsa yang amat penting…
Selamat hari Sumpah
Pemuda. Bangun pemuda, satukan Indonesia, menuju SDM Unggul Indonesia maju..
Penulis Adalah Siswa kelas
12 Global Islamic School Pamulang dan Alumni Model United Nation 2019 Di Putra
Jaya Malaysia