Riset yang dilakukan Samantha Bradshaw Dan Philip N Howard, para ilmuan dari Universitas Oxford, pasukan siber (buzzer/cyber troops) di Indonesia tergolong kasta rendah, jika dibandingkan dengan negara lain. Seperti dilansir situs resmi Oxford Internet Institute, nilai kontrak buzzer paling tinggi hanya mencapai Rp 50 juta.
Dalam’Penelitian itu berjudul `The Global Disinformation Order: 2019 Global Information of Organized Social Media Manipulation` atau `Orde Disinformasi Global: Informasi Global tentang Manipulasi Media Sosial Terorganisir 2019`, menjelaskan nilai kontrak buzzer Indonesia antara 1 Juta – 50 Juta.
Sehingga Pasukan siber atau buzzer di Indonesia termasuk memiliki kapasitas rendah, karena bekerja secara temporer, kontraknya (multiple contract) berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 50 juta.
Buzzer yang setingkat dengan yang ada di Indonesia, seperti Australia, Colombia, Ceko, Eritrea, Jerman, Honduras, Hungaria, Italia, Kenya, Makedonia, Moldova, Nigeria, Korea Utara, Polandia, Rwanda, Serbia, Afrika Selatan, Spanyol, dan Zimbabwe.
Sedangkan pasukan siber dari China, Mesir, Iran, Israel, Amerika Serikat, Rusia, Arab Saudi masuk dalam tingkat tinggi. Karena Pasukan siber di China berstatus kerja permanen dan bukan temporer seperti di Indonesia. Tim mereka diperkirakan beranggotakan 300 ribu hingga 2 juta orang yang bekerja di kantor lokal dan regional.
Di Iran, beda lagi, mereka mendapat anggaran USD 6 ribu untuk iklan di Facebook. Sedangkan di Israel, pasukan siber yang terdiri dari 400 orang, dan di kontrak di kisaran USD 778 ribu dan USD 100 juta.
Samantha dan Philip hanya meneliti 70 negara yang menjadi objek penelitiannya, yakni Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan, Bahrain, Bosnia dan Herzegovina, Brazil, Cambodia, China, Colombia, Croatia, Cuba, Czech Republic, Ecuador, Egypt, Eritrea, Ethiopia, Georgia, Germany, Greece, Honduras, Guatemala, Hungary, India, Iran, Israel, Italy, Kazakhstan, Kenya, Kyrgyzstan, Macedonia, Malaysia, Malta, Mexico, Moldova, Myanmar, Netherlands, Nigeria, North Korea, Pakistan, Philippines, Poland, Qatar, Russia, Rwanda, Saudi Arabia, Serbia, South Africa, South Korea, Spain, Sri Lanka, Sweden, Syria, Taiwan, Tajikistan, Thailand, Tunisia, Turkey, Ukraine, United Arab Emirates, United Kingdom, United States, Uzbekistan, Venezuela, Vietnam, and Zimbabwe dan Indonesia.
Metodologi penelitian ini adalah analisis konten berita yang dipakai pasukan siber, ulasan literatur, penyusunan studi kasus negara, dan konsultasi ahli. Peneliti juga mengaku bekerja sama dengan BBC.
Wajar jika Buzzer menjadi profesi baru di era Revolusi 4.0 Sayangnya di Indonesia masih menjadi pekerjaan sambaln sheingga di gaji sangat kecil. Padahal buzzer itu butuh keahlain khusus, dan professional sehingga tiadak menjadi backfire bai tokoh politik. Anda siap Jadi BUZZER ?
