Penurunan gairah seksual
atau disebut juga resesi Seks, telah terjadi di Amerika Serikat dan Jepang . menurut
hasil penelitian dari analis politik dan ekonomi Jake Novak, mengungkapkan
telah terjadinya penurunnya selera kaum milenial di Negeri Paman Sam dalam
melakukan hubungan seks alias 'resesi seks'. Hal tersebut bisa membuat ekonomi negara itu mengalami
perlambatan.
Karena 'resesi seks' menyebabkan terjadinya penurunan pernikahan yang berakibat pada kaum milenial yang menunda persiapan menuju kedewasaan, seperti membeli rumah atau mobil, yang berakibat pada perlambatan ekonomi.
Karena 'resesi seks' menyebabkan terjadinya penurunan pernikahan yang berakibat pada kaum milenial yang menunda persiapan menuju kedewasaan, seperti membeli rumah atau mobil, yang berakibat pada perlambatan ekonomi.
Dalam analisisnya, Jake Novak News ini menyebutkan
bahwa, sejumlah turunnya
gairah seksual dan perkawinan di AS disebabkan karena adanya teknologi dan
peluang baru yang diberikan oleh teknologi yang memicu orang dewasa muda lebih
senang menyendiri ketimbang berhubungan dengan manusia lainnya secara langsung.
Semuanya, mulai dari pornografi online hingga video game canggih, hingga media sosial digunakan oleh banyak remaja sebagai pengganti kontak dengan manusia nyata, terutama untuk pria, dalam penelitian itu.
Hal diatas beraibat pada lebih sedikit orang yang menjalin relasi hubungan dewasa, dan berdampak pada penurunan keduanya, yaitu seks, dan ekonomi]..
Selain AS negara yang mengalami resesi seks, adalah Jepang. Jepang telah lebih dulu mengalami resesi seks, seperti dilaporkan oleh CBS News.
Semuanya, mulai dari pornografi online hingga video game canggih, hingga media sosial digunakan oleh banyak remaja sebagai pengganti kontak dengan manusia nyata, terutama untuk pria, dalam penelitian itu.
Hal diatas beraibat pada lebih sedikit orang yang menjalin relasi hubungan dewasa, dan berdampak pada penurunan keduanya, yaitu seks, dan ekonomi]..
Selain AS negara yang mengalami resesi seks, adalah Jepang. Jepang telah lebih dulu mengalami resesi seks, seperti dilaporkan oleh CBS News.
hasil Survei di jepang
oelh CBS News mengungkapkan, Kesuburan Nasional Jepang, yang menemukan bahwa
satu dari 10 pria berusia 30-an di negara itu, ternyata belum pernah
berhubungan seks sebelumnya.
Para ahli yang disurvei dalam penelitian itu menyebut tingginya tingkat keperawanan itu disebabkan berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketidakstabilan keuangan nasional hingga munculnya aplikasi digital yang membuat orang lebih senang menjalin pertemanan secara digital.
“Sebagian besar dari orang-orang ini tidak dapat menemukan pasangan di pasar," jelas Peter Ueda, peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, kepada CBS News.
Selain itu, penyebab resesi seks juga dipengaruhi tingginya jam kerja di negara ini, serta masalah keuangan.
Namun, apapun penyebabnya, keadaan ini telah membuat khawatir Jepang. Sebab, peneliti kesehatan masyarakat dan pakar demografi di negara itu menyebut hal ini dapat berdampak pada penurunan jumlah populasi di Negeri Sakura.
Saat ini tingkat kesuburan masyarakat Jepang sudah sangat rendah. Akibat dua hal itu, populasi Jepang dapat berkurang setengahnya, jika tren berlanjut selama 100 tahun ke depan.
Menurunnya jumlah kelahiran di Jepang pun telah berdampak pada ketidakseimbangan yang tumbuh antara penduduk usia muda dan tua, yang akhirnya menjurus pada langkanya tenaga kerja muda di negara ini. Seperti halnya yang terjadi di sektor manufaktur.
Sekarang saja, Menurut survei pemerintah, yang dikutip Asia Nikkei, tenaga kerja manufaktur Jepang telah menyusut 9% dari 11,7 juta menjadi 10,6 juta antara 2008 hingga 2018.
Sementara jumlah pekerja di atas usia 65 tahun dalam sektor manufaktur telah naik dari 6,5% pada 2008 menjadi 8,9% pada 2018. Sementara itu, jumlah kelompok pekerja usia kurang dari 35 turun 29% menjadi 25,1% pada kurun waktu yang sama
Para ahli yang disurvei dalam penelitian itu menyebut tingginya tingkat keperawanan itu disebabkan berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketidakstabilan keuangan nasional hingga munculnya aplikasi digital yang membuat orang lebih senang menjalin pertemanan secara digital.
“Sebagian besar dari orang-orang ini tidak dapat menemukan pasangan di pasar," jelas Peter Ueda, peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo, kepada CBS News.
Selain itu, penyebab resesi seks juga dipengaruhi tingginya jam kerja di negara ini, serta masalah keuangan.
Namun, apapun penyebabnya, keadaan ini telah membuat khawatir Jepang. Sebab, peneliti kesehatan masyarakat dan pakar demografi di negara itu menyebut hal ini dapat berdampak pada penurunan jumlah populasi di Negeri Sakura.
Saat ini tingkat kesuburan masyarakat Jepang sudah sangat rendah. Akibat dua hal itu, populasi Jepang dapat berkurang setengahnya, jika tren berlanjut selama 100 tahun ke depan.
Menurunnya jumlah kelahiran di Jepang pun telah berdampak pada ketidakseimbangan yang tumbuh antara penduduk usia muda dan tua, yang akhirnya menjurus pada langkanya tenaga kerja muda di negara ini. Seperti halnya yang terjadi di sektor manufaktur.
Sekarang saja, Menurut survei pemerintah, yang dikutip Asia Nikkei, tenaga kerja manufaktur Jepang telah menyusut 9% dari 11,7 juta menjadi 10,6 juta antara 2008 hingga 2018.
Sementara jumlah pekerja di atas usia 65 tahun dalam sektor manufaktur telah naik dari 6,5% pada 2008 menjadi 8,9% pada 2018. Sementara itu, jumlah kelompok pekerja usia kurang dari 35 turun 29% menjadi 25,1% pada kurun waktu yang sama
Hal tersebut, berdampak
pada semakin panjangnya waktu pensiun seorang pekerja di Jepang. Saat ini 79,3%
dari perusahaan dan 88,7% dari produsen di negara itu menetapkan batas pensiun
di usia 60 tahun, menurut survei Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan
Kesejahteraan tahun 2017.
Hal tersebut membuat pemerintah Jepang membuat undang-undang, untuk mendorong perusahaan menghapuskan usia pensiun dan mengembangkan langkah-langkah dan kebijakan untuk membuat orang dapat tetap bekerja melebih usia 70 tahun.
Hal tersebut membuat pemerintah Jepang membuat undang-undang, untuk mendorong perusahaan menghapuskan usia pensiun dan mengembangkan langkah-langkah dan kebijakan untuk membuat orang dapat tetap bekerja melebih usia 70 tahun.
