Inilah Asal Usul Jebakan Utang Cina dan Tujuan nya ?





Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut total utang global menyentuh rekor terbaru yaitu mencapai US$ 188 triliun. Kalau dirupiahkan, nilainya kira-kira Rp 2,64 juta triliun. Wow. 

Jumlah tersebut adalah 230% dari Output perekonomian dunia. Beban utang ini bisa membebani laju pertumbuhan ekonomi. Beban utang akan membuat pemerintah, korporasi, sampai rumah tangga mengetatkan ikat pinggang.

Oleh karena itu, utang harus dikelola secara berkelanjutan. Termasuk membuat prosesnya lebih transparan dan mempersiapkan skema restrukturisasi, terutama kepada para kreditur non-tradisional. 

Kreditur non-tradisional yang dimaksud oleh ekonom adalah Cina. Ya, Negeri Tirai Bambu memang telah dan sedang gencar memberi utangan kepada berbagai negara terutama untuk pembangunan infrastruktur dalam kerangka ambisinya membangun Jalur Sutera modern. 

World Pension Council (WPC) mencatat kebutuhan pembiayaan infrastruktur di Asia saja mencapai US$ 900 miliar per tahun selama 10 tahun ke depan. Ini adalah peluang yang dibaca oleh China. 

Ada beberapa contoh negara yang mendapat utangan besar dari China. Pertama Pakistan, yang pada 2013 menyepakati proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). 

Mega proyek ini ditaksir bernilai total US$ 62 miliar yang dibiayai oleh China Development Bank, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang diinisiasi oleh China, Silk Road Fund, dan Industrial and Commercial Bank of China. 

Meski nilai total proyek CPEC adalah US$ 62 miliar,  namun perusahaan sekuritas di Pakistan memperkirakan bahwa total utang yang harus dibayar mencapai US$ 90 miliar. 

Setiap tahun, pembayaran utang untuk proyek CPEC diperkirakan rata-rata US$ 3,7 miliar hingga 2030

Kedua adalah Laos. Cina memang punya kepentingan di wilayah Indo-Cina. Negeri Tirai Bambu ingin menghubungkan negaranya dengan wilayah tersebut melalui jalur kereta api dan membangun kawasan-kawasan ekonomi khusus di sekitarnya. 

Di Laos, Cina mendanai pembangunan jalur kereta api Vientiane-Boten sepanjang 414 km yang rencananya rampung pada 2021. Nantinya jalur ini akan tersambung dengan Yuxi-Mohan di China. Proyek ini diperkirakan menelan dana US$ 5,95 miliar dan hanya 12% yang datang dari Laos. Sisanya? Ya China... 

Nilai hampir US$ 6 miliar itu adalah separuh dari Produk Domestik Bruto (PDB) Laos. Oleh karena itu, Bank Dunia mempertanyakan kesanggupan Laos. 

Menurut laporan Bank Dunia, defisit anggaran Laos melebar signifikan pada 2016 dan membuat utang pemerintah mendekati 70% PDB. Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar seiring proyek infrastruktur besar, sementara cadangan devisa masih rendah. 

Ketiga Cina juga mencengkeramkan kukunya di Eropa. Cina mendanai pembangunan jalan tol sepanjang 165 km di Montenegro yang menghubungkan negara tersebut dengan tetangganya, Serbia. 

Mengutip Reuters, proyek ini sebenarnya sudah menjalani studi kelayakan pada 2006 dan 2012. Hasilnya, tidak layak secara ekonomi. 

Louis Berger, firma dari Prancis yang ditunjuk melaksanakan studi kelayakan, menyebutkan bahwa pemerintah Montenegro harus menyediakan subsidi EUR 35-77 juta per tahun agar investor bersedia masuk. Sebab, jalur tol ini agak 'kurus' sehingga harus mendapat bantuan dari pemerintah.


Menurut kajian Ivan Kekovic, seorang insinyur yang pernah terlibat dalam proyek jalan tol ini, dibutuhkan pengguna 22.000-25.000 kendaraan per hari agar bisa untung/feasible di mata investor. Nyatanya, jumlah arus kendaraan per hari kurang dari 6.000. 

Namun ini tidak menyurutkan Cina untuk masuk. Exim Bank of China menggelontorkan duit EUR 809 juta untuk membiayai 85% dari kebutuhan pembangunan fase pertama. Utangan itu berbunga 2% per tahun selama 20 tahun dengan grace period enam tahun. 

Demi membayar utang ini, pemerintah Montenegro terpaksa menaikkan tarif pajak, menahan gaji sebagian pegawai negeri, dan menunda penyaluran subsidi, jangan sampai hal seperti ini terjadi di Indonesia.
IMF memperkirakan rasio utang pemerintah Montenegro bisa mencapai 80% dari PDB dan pemerintah akan kesulitan menambah utang untuk membiayai proyek-proyek baru.

Karena ada pertanyaan besar bagaimana pemerintah Montenegro bisa membayar utang ? Sedangkan ruang fiskal mereka menyempit, dan ini sangat mencekik.

Kejadian di beberapa negara tersebut memunculkan istilah Dept-trap diplomacy atau Jebakan utang Cina. Cina menggunakan utang sebagai sarana diplomasi, dan kemudian malah memunculkan jebakan bagi negara-negara debitur. 

Cina nampaknya sedang menjalankan imperialisme gaya baru. Orang  Cina, menyebutnya sosialisme dengan karakter Cina. Mungkin yang tepat adalah imperialisme dengan karakter China.

Pertanyaan nya apakah Indonesia akan berkarakter Cina, atau berkarakter Indonesia yang berpancasila ? kalau orang Cina sendiri menyebutnya membangun karakter Cina dengan jebakan utangnya, apakah kita masih mau berutang lagi ?
 


0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama