Gawat Indonesia Krisis Petani Sebentar Lagi ?


By Helmi Adam

Regenerasi petani Indonesia seamkin menurun sehingga harus menjadi perhatian serius pemerintah. Diperkirakan dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang, Indonesia  akan mengalami krisis jumlah petani. Benarkah jadi petani karena terpaksa?

Saat ini Petani di Indonesia rata rata berumur 47 tahun. Tren tersebut diikuti dengan penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.   Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja di sektor pertanian turun dari 33% menjadi 29% dalam kurun waktu lima tahun terakhir, bahkan bisa jadi lebih dari itu.

Persoalan makin pelik karena Pemerintah belum serius menggarap kesejahteraan petani kita. Hal ini bisa dilihat dari data kemiskinan, sebagian besar kemiskinan tersebar di pedesaan di mana pendapatan penduduk bergantung dari sektor pertanian.

Padahal kontribusi pertanian terhadap GDP cukup bagus, sekitar 12-13%, namun sayangnya  kontribusi terhadap kesempatan kerja masih sekitar 30%.

Jadi kesimpulan dari data diatas adalah telah terjadi  'krisis'  kesejahteraan petani. Karena pendapatan yang hanya 13% itu dibagi di antara yang 30%.

Masalah kesejahteraan Petani inilah, yang pada akhirnya membuat generasi muda tidak tertarik terhadap pertanian. Karena itu, regenerasi petani menjadi sangat lambat, atau hampir tidak ada.

Hasil survey kami terhadap 10 orang petani, 8 orang petani beralasan menjadi petani karena terpaksa, tidak ada pekerjaan lain. Itu artinya mereka kurang berminat menjadi petani. Begitupun ketika sya menanyakan anak anak petani umur 17-18, dari 10 orang, semuanya tiadak mau jadi petani. Menyedihkan, siapa yang akan menggarap bumi yang subur ini ?

Dalam catatan BPS  pada Agustus 2019, penduduk yang bekerja pada pertanian, kehutanan, perikanan sebanyak 34,58 juta orang, turun 1,12 juta atau 1,46% dibandingkan Agustus 2018.

Pertanyaan nya justru, Mengapa orang malas jadi petani?  Ternyata salah satunya persoalan keuntungan di sektor pertanian membuat orang menjadi tidak tertarik berbisnis di sektor ini. Apalagi tidak ada subsidi seperti yang dilakukan di India. 

Hal inilah yang menjelaskan mengapa kita akan terjadi krisis pangan, karena petaninya sudah beralih profesi jadi gojek online…

Penulis : Wakil Sekjend DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia.

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama