Di desa Tropodo
lebih dari 30 perusahaan tahu menggunakan campuran plastik dan kertas sebagai
bahan bakar, dengan sebagian besar datang dari AS.
Olahan kacang
kedelai yang kaya protein itu diproduksi di halaman belakang. Namun,
kekhawatiran pun muncul terkait dengan material bahan bakarnya masih bermasalah. Pasalnya, asap dan abu dari plastik yang
terbakar menimbulkan konsekuensi racun.
Laporan dari aliansi
kelompok lingkungan hidup Indonesia dan asing menemukan kandungan racun yang
bernama dioxin. Polutan dioxin dikenal dapat menyebabkan penyakit kanker,
Parkinson, hingga cacat saat lahir.
Warga setempat yang tinggal di dekat tujuh pabrik tahu askan
menadapat musibah adri racun tersebut, karena para pekerja pabrik tahu akan mulai membakar pada pagi buta hingga malam.
Sehingga tidak banyak disadari warga.
Hal Ini dilakukan
setiap hari, dengan asap itu selalu berada di udara, dapat menyebabkan warga
mengalami kesulitan bernafas.
Dalam laporan yang
dirilis New York Times, telur yang dihasilkan oleh salah satu ayam dari warga
setempat, tercatat mengandung dioxin tinggi yang pernah terekam. Kandungan
dioxin dalamnya tertinggi kedua di Asia setelah telur yang dikumpulkan dekat
Bien Hoa, bekas pangkalan udara AS saat Perang Vietnam.
Washington
menerapkan Agent Orange, yakni menyemprot herbisida ke tanaman milik Viet Cong,
dengan salah satu kandungannya adalah dioxin. Sebutir telur dari peternakan warga
terdapat kandungan dioxin yang melebihi batas yang diterapkan AS hingga 25 kali
lipat, atau Eropa sebesar 70 kali lipat.
Lee Bell, salah satu
penulis laporan dari International Pollutants Elimination Network berujar,
temuan itu menggambarkan berbahayanya plastik bagi kesehatan manusia.
"Para pemangku kebijakan harus melarang pembakaran sampah plastik,
mengatasi kontaminasi lingkungan, dan secara ketat mengontrol impor,"
jelasnya.
Adapun studi itu
dilakukan oleh empat organisasi. Yakni Ecoton dan the Nexus3 Foundation asal
Indonesia, Arnika dari Praha, Republik Ceko. Serta International Pollutants
Network atau IPEN organisasi internasional yang fokus kepada mengenyahkan
polutan beracun.
Dilaporkan New York
Times, racun itu bermula ketika negara-negara Barat melakukan upaya penyortiran
sampah untuk didaur ulang. Kebanyakan sampah itu kemudian dikirim ke luar
negeri, termasuk ke Indonesia, di mana dikombinasikan dengan sampah lokal untuk
diolah.
Namun, ada sampah
yang tidak bisa didaur ulang, dan berakhir menjadi bahan bakar di pabrik tahu
di Tropodo, desa di timur Pulau Jawa.
"Benda ini
dikumpulkan dari AS dan negara lain, dan kemudian dijadikan sumber pengapian
pabrik," kata Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation. Yuyun mengatakan,
pengolah limbah tak bertanggung jawab memilih membuangnya di negara berkembang
dengan memalsukan dokumennya. Dalam dokumen, oknum itu menuliskan hanya ada 50
persen limbah plastik di dalamnya. Adapun perusahaan lokal mengeruk untung
dengan menerimanya.
Kebanyakan dari
plastik yang dikirim itu adalah berkualitas rendah, tidak diinginkan, dan
Indonesia tidak bisa mendaur ulangnya. Setelah memilah beberapa bahan untuk
didaur ulang, barulah sisanya kemudian dibawa ke Bangun (Nama tempat), desa di
mana pemulungnya bakal mencari apa yang masih berharga.
Di Bangun, tumpukan
sampah, dengan ada yang setinggi empat meter, memenuhi area itu. Sekitar 2.400
orang tinggal di sana, dengan setiap keluarga terlibat dalam bisnis pengolahan
tersebut.
Setiap hari, sebuah
truk mengangkut kertas dan plastik, dan menurunkan muatannya di pabrik tahu.
Menurut sopir truk yang bernama Fadil, dia sudah mengantarkan muatan plastik
dan kertas ke industri tahu selama 20 tahun terakhir.
"Orang-orang butuh mengisi bahan bakar
bagi industri tahu mereka," tutur pria berusia 38 tahun tersebut kepada
New York Times.
Aktivis lingkungan
menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memerhatikan masalah kesehatan dalam
rangka mengembangkan ekonomi. Kalangan pemerhati pun meminta Presiden Jokowi
menangani kontaminasi racun, termasuk polusi udara serta kontaminasi merkuri.
Juli lalu, Dirjen
Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK)
Rosa Vivien Ratnawati berkunjung ke Tropodo. Di sana, dia mengakui bahwa
plastik yang dibakar dapat menimbulkan racun.
Dia kemudian
menyatakan bakal mencari tahu bagaimana asap dari pembakaran plastik bisa
dikendalikan. "Jika plastik yang digunakan sebagai bahan bakar tidak
dipermasalahkan, seharusnya ada penanganan bagaimana polusinya," tuturnya.
Saat dihubungi The Times pekan lalu, Rosa menolak membahas isu tersebut, dan
meminta supaya didiskusikan kepada Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Karliansyah.
Tetapi, yang bersangkutan tidak memberikan
