Globalisasi menciptakan Remaja "Gombal" di Indonesia..?




Oleh Ayesha Ad'hanirizky Adam


Globalisasi merupakan suatu proses  keseluruhan dalam berbagai  bidang kehidupan sehingga tidak  ada batas-batas yang mengikat secara nyata, dan sulit untuk disaring atau dikontrol. Sedangkan Gombalisasi adalah istilah dari Gombal atau bohong atau hiperbolik.

Perubahan nilai-nilai sosial pada masyarakat, yang memunculkan kelompok tertentu dinegaranya sendiri akibat meniru dari luar negri yang diluar negri sendiri temapt ditirunya tidak ada. Seperti kelompok  Punk, yang diluar negri juga tidak ada. Inilah yang terjadi, remaja yang tak kuat menerima globalisasi akhirnya hanya jadi Tergombalisasi, atau sampah saja, (maaf agak kasar) 

Ditengah hilangnya Nasionalisme, justru globalisasi rentan mempengaruhi paras Remaja, apalagi remaja yang  sedang mencari jati diria, jangan sampai Globalisasi menciptakan generasi gombal.  Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa.

Salah satu pakar psikologi  perkembangan Elizabeth B. Hurlock (1980)    melihat masa remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia mencapai usia dewasa secara hukum. 

Masa remaja terbagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai pada saat anak-anak mulai matang secara seksual yaitu pada usia 13 sampai dengan 17 tahun, Alhamdulillah saya masih awal remaja karena baru 17 tahun.  

Sedangkan masa remaja akhir meliputi periode setelahnya sampai dengan 18 tahun, yaitu usia dimana seseorang dinyatakan dewasa secara hukum. 

Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja ini menjadika para ahli menyebutnya sebagai masa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap, selain dari pada itu periode ini pun sangat penting karena masa depan individu sangat tergantung pada penyelesaian krisis pada masa ini, Erik Erikson (1998)

Dunia remaja akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena yang tidak menggembirakan. Seperti  Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan-susila pada kalangan pelajar dan mahasiswa, Seks Bebas dll

Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih yang terhempas dipantai yang menjadid zurriyatan dhi’afan, suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” - the loses generation -- yang tidak memiliki keberanian ikut serta diPersaingan,dan  percaturan gelombang era globalisasi. 

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan  bangsa akan lenyap karena rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan. Diperparah oleh hilangnya tokoh panutan. Bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, dan profesi guru dilecehkan. Bahaya besar untuk generasi mendatang. 

Untuk membentuk generasi muda yang memiliki rasa nasionlaisme adalah dengan menumbuhkan nilai kepahlawanan, sehingga saya sangat heran ada wacana menghapus pelajaran sejarah  dari SD hingga SMA. 

Padahal saya sebagai remaja bisa tumbuh cinta tanah air dengan perjuangan Diponegoro, Imam Bonjol dan lain lain nya.

Oleh karens itu untuk membangun remaga yang kuat harus dilakukan sebagai berikut ;

Pertama, Mestilah diyakinkan bahwa Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas Dunia. Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan  yang diminta lahir dengan Budaya luhur, Kreatif dan dinamik,

Kedua, Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas untuk itu harus dipersiapkan ruang untuk kreatifitas remaja, yang sekarang sangat minim, ditengah gempuran  teknologi Informatika yang makin canggih. Seperti remaja sekarang tidak ada hari tanpa hpnya, seperti  saya hehehe..karena minimnya ruang berekpresi.

Kedua hal ini semoga bisa jadi jalan keluar untuk menciptakan remaja Indonesia yang kuat dan memiliki rasa nationalisme..

Penulis adalah Alumni Parlemen Remaja 2017, Model United Nation Di Putrajaya 2018, dan Siswa Global Islamic School Pamulang, Tangsel, Banten, Indonesia.





0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama