Islamphobia Dan Kasus Tidak Hormat Bendera RI ?


Dimulai dari Agnez MO yang dituduh tidak mau megakui keindonesiaannya. Disusul berita menghebohkan, 2 siswa SMP di Batam dikeluarkan dari sekolah gara-gara menolak menghormati bendera merah putih dan menolak menyaynyikan lagu kebangsaan.

Bukan karena anti lambang Negara, tapi karena kedua murid itu memegang teguh ajaran agama yang dianutnya yang sudah terpatri kuat dalam kepercayaannya. Apa agamanya? Nah, disinilah masalahnya.

Pihak sekolah tidak mau terus terang menyebut agama kedua anak itu. Para guru kepada wartawan hanya menyebut, ajaran “aliran tertentu.”

Negeri ini sedang demam Islamophobia di tengah perang terhadap radikalisme yang semua telunjuk mengarah kepada umat Islam gara-gara kebijakan pemerintah yang serampangan soal radikalisme.

Maka hujatan terhadap Islam di dunia maya tidak dapat lagi dibendung. Hanya dalam hitungan jam setelah berita kedua anak SMP itu dikeluarkan, betebaranlah komentar-komentar semacam ini :

“Tinggal dan hidup di Indonesia tapi gak mau menghomati simbol negara, mungkin mereka dicuci otaknya dengan paham khilafah …bibit2 teroris “
“Mending mabok anggur drpd mabok agama, mending salah gaul drpd salah pengajian.”
“Sistem pengkaderan ala ISIS . Dari kecil sudah diajarkan militant. Periksa ortu dan lingkungannya juga. Gak mungkin anak-anak itu radikal sendiri. “

“Mungkin mereka adalah korban dari dakwah yang sesat. Hasil binaan kajian pengajian yang terselubung".

Itu cuma beberapa contoh. Buaaanyak sekali komentar- komentar semacam itu di dunia maya.

Kemudian hasil investigasi media, ternyata dua anak SMP itu bukan muslim, tapi penganut ajaran Saksi Yehova, atau Saksi Yehuwa, sempalan Kristen. Dalam bahasa Wikipedia disebut, Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis dengan kepercayaan nontrinitarian yang terpisah dari Kekristenan arus utama.

Kontan dunia maya bungkam dari hujatan terhadap Islam.

Apakah beralih menghujat ajaran Saksi Yehova? Nggak lah. Barangkali kurang seksi.
Kalau toh ada  yang berkomentar, narasinya lebih lunak dan mengayomi.  Contohnya, “Beri pemahaman terus menerus , kunjungi keluara tersebut oleh guru dan pemuka agama terpercaya . Mencerdaskan bangsa adalah tujuan bernegara. “

Menag yang biasanya galak dalm soal ini, menolak berkomentar banyak. Dia cuma  bilang sebagaimana dikutip detik.com. "Kalau memang ada orang begitu, harus ada pembinaan khusus. Nggak boleh kalau itu benih-benih yang sangat berbahaya ke depannya," kata Fachrul di Hotel Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2019) Namun dia enggan memberi penilaian apakah kedua siswa itu memang harus dikeluarkan dari sekolah atau tidak. Fachrul hanya menekankan kedua siswa itu butuh pembinaan secara khusus

Nggak jelas juga upaya persuasif apa. Ini kan soal ajaran agama yang diyakininya. Herlina Sibuea, orangtua kedua anak SMP yang menolak hormat bendera itu menjelaskan, sejak Sekolah Dasar (SD) mereka sudah memberikan surat rekomendasi dari agama yang mereka anut.
"Dulu anak kami sekolah di SD swasta Tiranus, tidak ada masalah. Bahkan masuk ke SMPN 21 kami juga berikan surat rekomendasi," kata Herlina.

Artinya, sejak SD dan setahun di SMP kedua anakya itu tidak hormat bendera dan tidak ada masalah. Pihak sekolah barangkali mengamalkan sila pertama, menghormati ajaran setiap agama yang dianut oleh tiap warganegara hingga mengizinkan dua siswa itu hanya bersikap tegak, tidak bersikap hormat terhadap merah putih.

Tapi kerena belakangan ini Menag serius tingkat dewa dalam memerangi radikalisme hingga akan membentuk Satgas 11 kementerian segala, tentu saja pihak sekolah jadi ketar-ketir.

Gara-gara ada dua muridnya yang atas nama sila pertama dikasih dispensasi tidak menghormati bendera, bisa-bisa sekolahnya kena gigit satgas. Maka sebelum kena gigit, mending mengeluarkan dua muridnya itu.

Entahlah, apakah Saksi Yehova ada yang moderat atau semua tetap konsisten dengan yang tertulis dalam AlKitab yang diyakininya.

Kayanya sih mereka tetap berpegang teguh pada ajarannya. Buktinya, orang tua kedua murid SMP itu berencana menggugat sekolah yang telah memecat kedua anaknya.

Coba bayangkan, jika ada orang tua muslim yang meyakini bahwa homat bendera adalah menyalahi ajaran yang diyakininya, kemudian menggugat sekolah yang memecat anakya gara-gara menolak hormat bendera. Apa yang terjadi???

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama