.
Oleh Helmi Adam
Oleh Helmi Adam
Inilah Bukti bahwa kebijakan Trump beradsarkan belief, karena
Lebih mirip propaganda. Tak berlebihan kiranya jika kita menyebut kondisi ini
sebagai sebuah doktrin: kebijakan yang dibuat dengan dasar seperangkat
keyakinan (set of belief). Apakah kebijakan ini benar atau keliru? Ataukah lebih banyak manfaatnya atau malah
mudharatnya? Buat Trump, itu urusan belakangan.
Sekarang kita lihat dari indikasi
lesunya aktivitas manufaktur Negeri paman Sam tersebut. Dimana menunjukkan bahwa, perang dagang sejauh ini
malah menjadi bumerang bagi negara dengan perekonomian terbesar dunia tersebut.
Target mereka yang beberapa kali dirundung dengan kenaikan tarif, yakni China,
justru aktivitas manufakturnya masih ekspansif.
Hal ini menciptakan ironi bagi Trump. Klaimnya di Twitter bahwa perang dagang membuat Wall Street menguat hingga 21% seolah dibungkam telak dengan koreksi bursa Wall Street kemarin nyaris sebesar 1% di hari perdana transaksi Desember.
Namun bukan Trump namanya jika dia tak ngotot mendapatkan apa yang diinginkannya. Kemarin mantan taipan properti ini mencuitkan deklarasi perang dagang terhadap Brazil dan Argentina, menuduh keduanya mendevaluasi mata uangnya sehingga merugikan petani AS. Padahal Buktinya Tidak ada, jadi lebih mirip propaganda.
Hal ini menciptakan ironi bagi Trump. Klaimnya di Twitter bahwa perang dagang membuat Wall Street menguat hingga 21% seolah dibungkam telak dengan koreksi bursa Wall Street kemarin nyaris sebesar 1% di hari perdana transaksi Desember.
Namun bukan Trump namanya jika dia tak ngotot mendapatkan apa yang diinginkannya. Kemarin mantan taipan properti ini mencuitkan deklarasi perang dagang terhadap Brazil dan Argentina, menuduh keduanya mendevaluasi mata uangnya sehingga merugikan petani AS. Padahal Buktinya Tidak ada, jadi lebih mirip propaganda.
Hal ini berdampak positif buat Indonesia seperti diperlihatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
ditutup meroket pada perdagangan Senin (2/12/2019) kemarin, dan menjadi raja
pasar saham Asia di hari perdana bulan ke-12 ini. Peluang penguatan diyakini
masih terbuka, meski Wall Street terpelanting kemarin.
Indeks utama bursa domestik tersebut naik 1,97% menjadi 6.130 dari posisi kemarin 6.011, terlebih setelah adanya penguatan pada momentum akhir perdagangan. Ini senada dengan mayoritas bursa utama Asia yang di zona hijau: indeks Nikkei terapresiasi 1,01%, indeks Shanghai menguat 0,13%, Hang Seng naik 0,37%, dan Kospi bertambah 0,19%
Indeks utama bursa domestik tersebut naik 1,97% menjadi 6.130 dari posisi kemarin 6.011, terlebih setelah adanya penguatan pada momentum akhir perdagangan. Ini senada dengan mayoritas bursa utama Asia yang di zona hijau: indeks Nikkei terapresiasi 1,01%, indeks Shanghai menguat 0,13%, Hang Seng naik 0,37%, dan Kospi bertambah 0,19%
Kabar
bagus muncul dari Indeks Pemesanan Manajer (PMI) Manufaktur China versi
Caixin/Markit berada di level 51,8 pada November, melampaui estimasi Reuters pada
51,4. Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Negeri Panda tersebut masih tahan
menghadapi gempuran aksi perundungan oleh Amerika Serikat (AS) lewat perang
dagang.
Positifnya
data manufaktur tersebut membuat saham-saham unggulan di bursa Indonesia dikoleksi
karena China merupakan mitra dagang utama Indonesia, yang membeli produk-produk
andalan kita mulai dari sawit hingga batu bara. Ketika ekonomi mereka
baik-baik saja, kita pun bakal mendapatkan berkahnya.
Ini menjelaskan mengapa IHSG menguat, terutama demi melihat data serupa di Indonesia, yakni indeks PMI manufaktur per November yang di angka 48,2 atau lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya 47,7. Meski masih masuk zona kontraksi, setidaknya ada indikasi pembaikan di sana setelah selama 5 bulan beruntun masuk di zona kontraksi.
Ini menjelaskan mengapa IHSG menguat, terutama demi melihat data serupa di Indonesia, yakni indeks PMI manufaktur per November yang di angka 48,2 atau lebih tinggi dari posisi bulan sebelumnya 47,7. Meski masih masuk zona kontraksi, setidaknya ada indikasi pembaikan di sana setelah selama 5 bulan beruntun masuk di zona kontraksi.
Jika
diperbandingkan dengan PMI AS, level PMI manufaktur kita (48,2) masih lebih
mendingan! Lihat saja catatan Institute for Supply Management (ISM), yang
menyebutkan indeks PMI manufaktur AS turun menjadi 48,1 pada November. atau
lebih buruk dari estimasi pasar yang hanya memperkirakan level 49,4.
Jadi
Masih yakin Mr Trump ?