Kebijakan Nadiem Tidak Sejalan Dengan Jokowi, Kok Bisa ?



Oleh Jon Erwin

Yang Benar Saja Mas Nadiem (Makarim)

Mulanya saya agak optimis dengan diangkatnya Mas Nadiem sebagai menteri. Terlebih  menteri pendidikan. Bukan menteri segala urusan yang suka usil dengan rumput tetangga. Saya berharap Mas Nadiem mampu meng-gojek-kan kualitas pendidikan Indonesia hingga go internasional.

Namun seiring musim kemarau yang berlalu, Mas Nadiem rupanya agak offside dan membanjiri publik dengan pernyataan yang tidak perlu. Banyak yang kecewa, termasuk emak saya.

Sebagai anak yang lumayan berbakti, saya pun ikut kecewa berjamaah saat tahu Mas Nadiem bilang, "Mohon maaf, dunia tidak membutuhkan anak-anak yang jago menghafal."

Itu maksudnya apa? Tega sekali menyindir hobby presiden. Beliau dulu 'kan sering ngasih quiz berhadiah  sepeda pada warganya. Tapi Saya lupa pertanyaannya.
Mungkin seperti ini : "Tolong sebutkan lima nama ikan yang tak bisa berenang di air."

Atau begini : "Coba sebutkan sepuluh suku di Indonesia yang hidupnya belum sejahtera!"
Benar atau salah, mungkin saja tetap dikasih "sepedaku roda dua" oleh presiden.

Lha, hobby presiden mengecek wawasan kenusantaraan warganya malah Mas Nadiem sepelekan. Pengen dipecat sampeyan?

Mas, andai  mengurusi daya ingat warga itu tak begitu penting, minta presiden ke depan urus  daya listrik saja, biar negara tak merugi terus.

Saya tahu. Mungkin maksud Mas Nadiem lain. Tapi tetap saja ucapan Mas Nadiem di atas terkesan meremehkan anak-anak yang cenderung kuat otak kanannya.

Otak kanan itu, kata ahli, membuat seseorang mampu berpikir secara intuitif dan visual. Pandai berimaginasi dan berbahasa. Dari penganut Mazhab "otak kanan"-lah lahir para pujangga, sastrawan hingga wartawan.

Beda dengan mas Nadiem yang cenderung kuat di otak kiri. Dari mazhab Mas Nadiem munculah para ilmuwan dan ahli saintis. Tapi cilakanya, tetap saja mereka diwajibkan menghafal semua rumus dan postulat. Semua percobaan bisa gagal andai mereka malas menghafal dan mengembangkannya.

Jadi siapa bilang jago menghafal itu tak dibutuhkan dunia? Mungkin maksudnya dunia kerja? Ya tetap saja. Anak-anak jurusan sosial mustahil masuk ke dunia kerja jika ilmu sosialnya lemah. Ilmu sosial identik dengan menghafal, Mas, bukan mengulas tiori relativitas Einstein.

Mas Nadiem juga permah beretorika," Gelar tak menjamin kompetensi!"

Lha, ini kesimpulannya dari planet mana? Di bumi Indonesia ini sudah ada aturan baku, anak SD wajib diajar oleh guru yang berkualifikasi strata satu. Calon guru yang ingin mendapat strata satu wajib dididik oleh dosen yang sudah strata dua.

Kalau gelar dianggap tak penting-penting amat, tutup saja semua perguruan tinggi dari sekarang mumpung punya kuasa. Suruh mereka yang menganggur ng-gojek atau nge-grab semua. Berantemlah kalian.

Bagi saya, gelar itu memang tidak sepenuhnya menjamin masa depan seseorang, Mas. Tapi kalau dengan sejumlah gelar saja masa depan seseorang terkadang masih suram, sulit mencari kerja, apalagi kalau tidak bergelar. Betul kan, Mas?

Tak usah dijawab. Akui saja gelar itu penting. Mahkamah konstitusi saja bilang penting. Buktinya mereka tetap membolehkan seseorang mencalonkan diri walau sudah mendapat gelar mantan napi. Malah ada yang menjabat komisaris utama Pertamina. Apa mereka kurang kompeten?

Yang benar saja, mas Nadiem. Mas Nadiem mungkin benar, tapi benarin juga bernarasinya. Salto dulu ah.

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama