APAKAH KATA MUDIK HANYA IDENTIK DENGAN LEBARAN?
Menjelang mudik lebaran masa merebaknya virus Covid-19, masyarakat Indonesia diramaikan dengan argumen yang menyatakan bahwa kata mudik dan pulang kampung mengandung makna yang berbeda. Kata mudik hanya identik dengan lebaran sedangkan frase pulang kampung dapat digunakan pada kesempatan apa saja. Lalu, muncul pertanyaan di benak kita, apakah benar kata mudik hanya berterima digunakan dengan kata lebaran?
Dalam KBBI V yang dikeluarkan Badan Bahasa, kata mudik, pertama, bermakna ke udik (hulu sungai, pedalaman), dan kedua, (cak/ percakapan) bermakna pulang ke kampung halaman, misalnya menjelang lebaran. Terkait itu, ada kata memudik (bukan percakapan) yang bermakna berlayar mudik. Lalu, ada kata pemudik (bukan percakapan) yang bermakna orang yang pulang ke kampung halaman/ udik.
Ulasan tersebut menggambarkan identiknya kata mudik dengan pulang kampung. Hal tersebut sekaligus menggambarkan eratnya kaitan kata mudik dengan kebiasaan masyarakat Melayu yang identik dengan sungai. Kota atau bandar berada di hilir sungai atau muara sungai, sedangkan hulu sungainya adalah udik atau kampung.
Gambaran tentang kata mudik yang menunjukkan kegiatan bepergian dari koto ke kampung atau udik dalam tradisi masyarakat Melayu, nampak dengan posisi kota-kota tua masyarakat Melayu Nusantara. Beberapa di antaranya dapat kita ambil contoh.
Contohnya Kota kerajaan Melayu yang sudah sangat lama, yaitu Kota Palembang (sejak abad ke-7 Masehi) dan Kota Malaka( sejak 1424 Masehi). Kota Palembang berada di muara Sungai Musi. Di bagian hulu Sungai Musi, terdapat beberapa sungai, seperti Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, dan Sungai Rawas. Sungai-sungai di hulu Sungai Musi tersebut merupakan udik atau kampung bagi masyarakat Palembang. Demikian pula dengan kota tua Malaka di Semenanjung Malaysia. Kota Malaka berada di muara Sungai Malaka. Bagian hulu Sungai Malaka dahulunya merupakan kampung atau udik.
Berikutnya kota Melayu lama di Kalimantan. Kita mengenal Istana Kadariah di Pontianak. Istana Melayu tersebut merupakan istana yang berlokasi di muara sungai, muara dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Hulu-hulu sungai tersebut merupakan perkampungan atau udik.
Demikian pula halnya dengan Kota Banjarmasin. Kota Banjarmasin dikenal sebagai Kota Seribu Sungai. Kota Banjarmasin berada di muara sungai. Pergi ke hulu sungai berarti pergi ke kampung, karena hulu-hulu sungainya merupakan perkampungan, udik atau pedalaman. Kedua kota tersebut sangat termasyhur di Kalimantan.
Kota tua Melayu lainnya di pulau Sumatera.
Kota Padang misalnya, sejak zaman dulu adanya di Muara Sungai. Ada terdapat lima sungai besar yang bermuara ke Kota Padang dan enam belas sungai kecil. Bagian hulu sungai-sungai tersebut, bagi orang Padang adalah udik atau kampung.
Berdekatan dengan Padang, ada Kota Medan. Di Medan terkenal dengan istana Melayu, yaitu Istana Deli. Zaman dahulu, Sungai Deli merupakan urat nadi perekonomian kerajaan Melayu Deli. Bepergian ke hulu Sungai Deli, berarti pergi ke kampung atau ke udik.
Di Ujung Sumatera ada Kota Banda Aceh. Di Kota Banda Aceh terdapat tiga sungai besar yang dalam bahasa Aceh disebut krueng, yaitu Krueng Aceh, Krueng Cut, dan Krueng Daroy. Bepergian ke hulu-hulu sungai tersebut berarti pergi ke kampung atau udik.
Di Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku, kota-kota tuanya pun umumnya berada di muara sungai, berdekatan dengan laut, misalnya Kota Makasar, Kota Ternate, dan Kota Tidore. Sejak zaman dulu, bagian-bagian hulu sungai kota-kota tersebut merupakan kampung atau udik.
Jadi, sejak zaman dahulu, terutama di wilayah Melayu Nusantara, pusat kota biasanya di muara sungai. Wilayah-wilayah hulu sungainya biasanya merupakan kampung atau udik/ pedalaman. Tidak mengherankan kalau kemudian kata mudik identik dengan pulang kampung.
Lalu, apakah kata mudik hanya identik dengan lebaran Idul Fitri? Terkait itu, tentu kita mengenal penggunaan beberapa kata mudik yang dari segi bahasa dapat berterima. Kata-kata tersebut misalnya, mudik Idul Adha, mudik awal Ramadan, mudik Natal, mudik Imlek. Kalau begitu, apakah kata mudik hanya identik dengan kegiatan pulang kampung masa libur keagamaan? Tidak juga, kita mengenal adanya frase/ kelompok kata, mudik tujuh belasan, mudik tahun baru, mudik pilkada, dan mudik pemilu.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kata mudik tidak hanya identik dengan pulang kampung saat menjelang lebaran Idul Fitri. Kata mudik di masyarakat kita, secara kebahasaan juga berterima untuk menjadi frase dengan kegiatan pulang kampung lainnya.
Jakarta, 26 April 2020
E. Firmansyah, (pengamat bahasa UNJ, pendapat pribadi)
Acuan Anda dari KBBI, acuan resmi.
Mudik = pulang kampung.
Mudik tak hanya saat/menjelang lebaran.