Muhammad Athallah Raihan Adam
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta.
Mengapa Kematian akibat Covid1 tinggi Di Indonesia ?
Sebuah pertanyaan yang menarik yang jika bisa kita jawab dengan baik maka kita bisa memecahkan solusinya.
Seperti kita ketahui kondisi Rumah Sakit kita belum memiliki data yang tersentralistik.Hal ini juga berkaitan dengan belum adanya jaminan UU Perlindungan data pribadi. Sehingga jika kita sakit pergi ke rumah sakit X. Setelah dilakukan diagnosa oleh dokter, maka secara otomatis kita akan mendapatkan rekam jejak medis dari rumah sakit yng bersangkutan.
Namun ketika kita berobat ke rumah sakit Y untuk menangani penyakit yang sama, maka RS Y akan minta Rujukan ke RS X, karena mereka tidak punya data pasien sebelumnya. Hal ini biasanya dikarenakan tidak adanya hubungan nya antara rumah sakit X dan Y. Apalagi kalau RS nya komersil, tentu tidak akan memberikan datanya, karena dianggap kompetitor. Padahal data tersebut mennyangkut hidup dan mati pasien.
Kasus ini terjadi, akibat dari setiap perusahaan memiliki database-nya masing-masing tersentralisasi.
Seperti kita ketahui Permasalahan sistem kesehatan
yang terjadi di tengah pandemi COVID-19 akibat sistem rumah sakit yang saling
berdiri sendiri, sehingga kita akan
melihat berdasarkan 2 data:
Belum lagi jika kiata melihat Ketersediaan data penunjang lainya sepertiTempat
Tidur, pasokan APD, Rapid Test, Obat, dll.
Data Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki
sebanyak 2.813 rumah sakit. Sedangkan sistem rumah sakit yang masih berdiri
sendiri.
Bisa dibayangkan begitu sulitnya rumah sakit untuk
melakukan update data jumlah kuota tempat tidur yang masih tersedia untuk
pasien penderita COVID-19 serta update status pasien menurut triase gawat
daruratnya seperti, merah, kuning, hijau, putih dan hitam secara real time.
Akibatnya keterlambatan penanganan pasien tidak
bisa dihindari. Pasien sendiri tidak
tahu harus mengacu ke rumah sakit mana yang masih memiliki tempat tidur yang
tersedia, dampak paling buruk dari telatnya penanganan berujung pada kematian.
Belum lagi Keterlambatan penyampaian rantai
pasokan alat medis dapat membuat rumah sakit kehabisan APD sebelum tambahan APD
selanjutnya datang dari pemerintah. Hal tersebut membuat dokter harus menangani
pasien tanpa APD sehingga akhirnya tim dokter memiliki potensi terpapar COVID-19
yang berujung ke kematian.
Oleh karena itu pentingnya Data dalam menangani kasus Covid19, dan kuncinya adalah data.
Solusinya adalah blockchain. Apakah itu Blockchain ?
Adalah record yang terus berkembang,
disebut block, yang terhubung dan
diamankan dengan teknik kryptografi. Dengan bahasa sederhana Blockchain adalah peyimpanan data secara
desentralisasi dan mandiri yang bisa terhubung satu sama lain.
Lalu bagaimanakah prakteknya blockchain untuk sistem rumah sakit dalam
mengatasi pandemi COVID-19 ?
Misalkan seluruh rumah sakit dapat melakukan
update jumlah kuota tempat tidur yang tersedia secara real-time, bahkan saat pasien yang sudah sembuh keluar dari
rumah sakit pun bisa di update.
Data yang ada dapat dihubungkan dengan Call Center Tim
Tanggap COVID-19 dan dilihat oleh seluruh rumah sakit, akibatnya penanganan
pasien dapat dilakukan secara cepat dan akurat. .
Rekam medis pasien yang terintegrasi antara
seluruh rumah sakit membuat rumah sakit mudah dalam menerima pasien rujukan. Hal
ini karena semua rekam medis pasien yang memerlukan penanganan khusus atau
mengalami komplikasi sudah diketahui.
Pada masa mendatang, saat vaksin COVID-19 sudah ditemukan, kita akan mudah mendistribusikan vaksin secara langsung oleh produsen vaksin ke gudang obat provinsi atau kabupaten.
Bahkan jika terjadi pandemi lagi, pemerintah
dapat mengetahui dan melacak stok vaksin yang sudah terdistribusi.
Setiap RS yang terlibat akan memegang data yang sama dengan yang lain. Seluruh data yang masuk ke dalam blockchain akan mengalami proses enkripsi sehingga data aslinya tidak diketahui dan hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang diberikan akses sehingga aman.
Inilah keuntungan sistem berbasis blockchain bagi rumah sakit yang memiliki persaingan (competing interest) terutama mengenai data pasien, tetap dapat memasukkan data pasien ke dalam sistem ini. Seluruh data yang sudah masuk ke dalam blockchain akan selamanya tersimpan dan tidak dapat dihapus alias abadi.
Hal ini lah merupakan solusi bagi kita dalam menjamin
kesehatan masyarakat.
Penulis : Chief Eksekutif Bidang Kesehatan Di Syafaat
Foundation.
