Harapan Damai Perang Dagang Musnah, Resesi Akan Tiba ?







Oleh Helmi Adam

Harian South China Morning Post melaporkan bahwa AS dan China gagal mencapai kesepakatan, dalam pertemuan tingkat wakil menteri yang dilakukan jelang pertemuan inti (Kamis-Jumat).

Harian ini juga menyebutkan bahwa pembicaraan tingkat tinggi antara Wakil Perdana Menteri China Liu He hanya akan berlangsung satu hari saja. Hal ini dik karenakan delegasi China kecewa, dan bakal meninggalkan Washington pada Kamis. Padahal, rencana semula adalah negosiasi selama dua hari.

Mendengar kabar ini, kontrak futures Dow Jones Industrial Average terpelanting lebih dari 300 poin pada pagi hari ini. Demikian juga dengan kontrak futures S&P 500 dan Nasdaq-100 yang tenggelam hingga 1%.

AS sendiri berencana menaikkan tarif terhadap produk impor dari China, senilai US$ total $250 miliar, dari 25% menjadi 30%  pada tanggal 15 Oktober.
Ditambah lagi Presiden AS Donald Trump mengancam kenaikan itu akan dikenakan jika tak ada kemajuan dalam negosiasi.
Sementara risalah rapat (minutes meeting) the Federal Reserve yang dirilis kemarin waktu setempat (dini hari waktu Indonesia Barat) cenderung berdampak netral terhadap sentimen pelaku pasar. Tidak ada hal yang baru di samping fakta bahwa The Fed mengkhawatirkan dampak perang dagang terhadap ekonomi AS.
Akan tetapi penilaian bank sentral AS tentang pasar yang terlalu optimistis mengenai jumlah pemangkasan suku bunga acuan ke depannya, mengindikasikan bahwa pandangan The Fed tidak sejalan dengan arah  pasar mengenai pelonggaran moneter.

Akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup Rabu (9/10/2019) dengan koreksi sebesar 0,17% ke 6.029,16. Pelaku pasar Tanah Air seiya sekata dengan investor Asia yang memilih berjaga jarak dulu dengan aset investasi berisiko seperti saham.

Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan Rabu di zona merah: indeks Nikkei terkoreksi 0,61%, indeks Hang Seng melemah 0,81%, dan indeks Straits Times berkurang 0,67%

Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) menambah sentimen negative dengan laporan nya yang menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia sedang melambat dan perlambatan itu dirasakan oleh hampir seluruh negara di dunia. Perang dagang dan kebijakan proteksionistis dituding menjadi pemicunya.

Sedangkan secara fundamental, belum ada rilis data yang bakal memberikan alasan kuat bagi investor untuk masuk ke bursa, dan berbelanja saham. Bank Indonesia (BI) akan merilsi angka pertumbuhan kredit per Agustus, tetapi Trading Economics memperkirakan bakal ada perlambatan yakni menjadi 9,3%, dari capaian sebulan sebelumnya pada 9,58%.

Sementara angka inflasi AS per September, baru akan diumumkan pada 19:30 WIB malam nanti atau 07:30 waktu setempat. Kuat-lemahnya daya beli masyarakat akan terbaca dari rilis data inflasi ini.
Sedangkan Tradingeconomics memprediksi inflasi  bakal tetap di angka 2,4% secara tahunan, sementara indeks harga konsumen diprediksi tumbuh sedikit menjadi 1,9% dari 1,7% (Agustus).
Namun dari sisi ketenagakerjaan, diprediksi pengangguran kan beratmabah, hal ini berdasarkan rilis data klaim asuransi pengangguran baru (per 5 Oktober) diprediksi naik menjadi 221.000 dari angka September 219.000.
Di sisi lain, klaim pengangguran lanjutan (per September) diduga tumbuh menjadi 1,655 juta, dari posisi sebulan sebelumnya 1,651 juta.
Inilah data yang akan dirilis  hari ini:
  • Rilis data pengangguran AS (19:30 WIB);
  • Rilis data inflasi AS (19:30 WIB);
  • RUPSLB PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (10:00 WIB);
  • RUPSLB PT Konstruksi Manggala Pratama Tbk (14:00 WIB);
  • Rilis data produksi bulanan OPEC (tentatif);
  • Rilis Pertumbuhan Kredit RI Agustus (tentatif); 
  • RUPSLB PT Jaya Real Property Tbk (tentatif);
  • Dividen PT Astra Graphia Tbk (tentatif).
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Pertumbuhan Economi  5,05 % Q2-219
Inflasi September YoY    3,39 %
BI 7 Day Repo Rate          5,25 %
Defisit Anggaran APBN  -1,84 % PDB
CAD, Q2 -2019                    -3.04 % PDB
Neraca Pembayaran       - 1,98 Milyar USD
Cadangan Devisa              124,2 Milyar USD

Resesi atau tidak, yang jelas punya duit cash lebih baik  ?
Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama