Terjemahan Oleh Helmi Adam
Introduction
Meskipun propaganda selalu menjadi bagian dari
politik, akan tetapi perluasan wacana, cakupan dan luas dari propaganda politik
juga, dapat membungkam kepentingan publik yang kritis dan mengundang keprihatinan
masyarakat.
Pasukan
dunia maya didefinisikan sebagai pasukan yang di bentuk oleh pemerintah atau
partai politik yang bertugas memanipulasi opini publik secara online (Bradshaw
dan Howard 2017a).
Penelitian
kami berusaha melakukan perbandingan antara organisasi formal dari pasukan
cyber di seluruh dunia, dan bagaimana para aktor ini menggunakan propaganda menggunakan
teknologi Komputer IT untuk kepentingan
politik tertentu. Kami meneliti mulai dari meninventarisasi strategi, alat, teknik propaganda
melalui computer IT, termasuk penggunaan 'bot politik' untuk memperkuat pidato
kebencian, atau
bentuk lain
dari konten yang digunakan untuk memanipulasi informais, perbuatan illegal disinformasi
data atau penargetan mikro, atau mengerahkan pasukan 'Troll' yang bertugas menggerta, mencaci maki, dan melecehkan lawan
politik atau jurnalis online yang tiadk berpihak kepada rezim.
Kami juga
melacak kemampuan keuangan dan sumber daya yang diinvestasikan untuk
mengembangkannya kemampuan teknik pasukan cyber di seluruh dunia. Penggunaan
propaganda melalui teknologi computer melalui
media sosial untuk membentuk sikap public, walaupun
dilakukan dengan cara cara jahat, yang
terpenting adalah arus utamanya terbentuk sesuai dengan tujuan.
Untuk
memberikan informasi positif sesuai kepentingan yaitu dengan cara meningkatkan volume
informasi yang tinggi agar tingkat
perhatian dan kepercayaan pengguna meningkat, denagn di dukung alat dan teknik propaganda
komputasi IT yang memadai. Sehingga konputasi menjadi hal yang umum – dan bisa
dibilang penting - bagian dari kampanye digital dan public diplomasi yang efektif.
Selain membangun
gambaran komparatif global dari kegiatan pasukan cyber, kami juga berharap
dapat mengajak public, dan masyarakat ilmiah untuk berdiskusi lebih jauh
tentang bagaimana kita mendefinisikan dan memahami perubahan dari sifat politik
melalui online, dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan demokrasi, serta mengekspresi
hak online manusia dengan benar.
Dalam tahun ini, kami meneliti aktivitas pasukan
cyber di 70 negara: Angola, Argentina, Armenia, Australia, Austria, Azerbaijan,
Bahrain, Bosnia & Herzegovina, Brasil, Kamboja, China, Kolombia, Kroasia,
Kuba, Republik Ceko, Ekuador, Mesir, Eritrea, Etiopia, Georgia, Jerman, Yunani,
Honduras, Guatemala, Hongaria, India,
Indonesia, Iran, Israel, Italia, Kazakhstan, Kenya, Kirgistan,
Makedonia, Malaysia, Malta, Meksiko, Moldova, Myanmar, Belanda, Nigeria, Korea
Utara, Pakistan, Filipina, Polandia, Qatar, Rusia, Rwanda, Saudi
Saudi,
Serbia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Sri Lanka Sweden, Syria,
Taiwan, Tajikistan, Thailand, Tunisia, Turkey, Ukraine, United Arab Emirates,
United Kingdom, United States, Uzbekistan, Venezuela, Vietnam, and Zimbabwe.
