Singapura Terancam, Bagaimana Nasib Batam



Perekonomian Singapura yang tengah menurun drastic, hanya tumbuh 1%. Hak ini akan berdampak secara langsung pada perekonomian Indonesia. Pasalnya, negeri jiran tersebut merupakan negara tujuan ekspor terbesar produk olahan industri asal Kepri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menunjukkan da­ri Januari hingga Agustus 2019, ekspor produk migas asal Kepri mencapai USD 3.061,15 juta . Sedangkan ekspor non-migas mencapai USD 4.989,33 juta. Totalnya USD 8.050,48 juta.
Dari jumlah tersebut, 54 persen di antaranya diekspor ke Singapura, yang nilainya mencapai  USD 4.315,74 . Data tersebut menetapkan Singapura pada posisi pertama sebagai negara tujuan ekspor dari Kepri.
Sedangkan di posisi berikutnya ada Tiongkok dengan nilai ekspor Kepri sebesar USD 672 juta Amerika dan berkontribusi 8,34 persen. Di tempat ketiga ada Amerika Serikat dengan nilai ekspor mencapai USD 548 juta  atau berkontribusi sebesar 6,81 persen.
Jika permintaan ekspor berkurang, maka produksi pabrik manufaktur di Batam juga ikut berkurang.
Sebelum gonjang-ganjing ini, pertumbuhan ekspor Kepri menuju Singapura sudah mengalami penurunan, dimana pada periode Januari hingga Agustus 2018, jumlah ekspor mencapai USD 4.400,66 juta. Pada periode yang sama tahun ini turun menjadi USD 4.315,74 juta.
Persoalan resesi merupakan kendala eksternal yang dapat mengganggu perekonomian Batam. Maka untuk me­ngimbanginya, kendala internal berupa lambatnya perizinan harus bisa diatasi oleh BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Apalagi sekarang keduanya sudah berada dalam satu komando.
Di samping itu, usaha meningkatkan ekspor ke Amerika dan Tiongkok juga dapat menjadi senjata pamungkas agar bisa lepas dari bayang-bayang resesi ekonomi di Singapura

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama