Dua Anak Yang Tak Mau Hormat Bendera Ternyata Sesuai Ajaran Aliran Kepercayaan nya ?
Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Dirgantara Wicaksono menilai aneh ada anak sekolah menengah pertama tidak mau hormat bendera merah putih saat upacara dengan alasan kepercayaan, mengikuti Alkitab.
"Ya ngawur dan aneh, tidak mau hormat bendera merah putih. Sudah tepat pihak sekolah mengeluarkan mereka," ujar Dirgantara dalam wawancara pertelpon, Kamis, 28 November 2019.
Sebelumnya, dua pelajar Sekolah Menengah Pertama Negeri 21 Batam akan dikeluarkan dari sekolah karena tidak mau menghormati bendera merah putih saat upacara.
Pakar pendidikan yang juga Guru di Subang, Dr. Nurdiansyah, juga menyetujui pihak sekolah yang mengeluarkan dua pelajar tersebut. Ia mengatakan bendera merah putih itu pusaka negara.
"Kita menghormat pada bendera bukan sekadar menghormat pada kain merah dan putihnya, tapi menghormat pada para pejuang yang sudah bertaruh nyawa demi merah putih itu," ujar Aan Panggilan Doktor. Pendidikan Sejarah ini.
Ia menambahkan, hormat kepada bendera itu bagian dari pendidikan karakter. "Kalau orang tidak mau hormat pada bendera negara, berarti bukan termasuk orang yang berkarakter," Lanjutnya.
Pendidikan itu bertujuan membentuk karakter subjek didik, termasuk karakter mau menghormati perjuangan para leluhur.
"Kalau mereka tidak mau melakukan itu, ya lebih baik keluar dari sekolah. Menghormat pada bendera tidak ada hubungannya dengan keyakinan seseorang pada agama yang dianutnya," ujar Alumni Universitas Jakarta.
Kedua pelajar tersebut menganut aliran kepercayaan tertentu. Pada saat upacara mereka tidak menghormati bendera dan tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sebenarnya apa yang dilakukan dua anak itu adalah bentuk perlawanan terhadap aturan berkewarganegaraan dan kebangsaan.
Sedangkan Komandan Rayon Militer Batam Barat 02, Kapten R. Sitinjak, mengatakan TNI juga sudah melakukan pendekatan personal kepada dua pelajar tersebut.
"Ini dalam ajaran mereka umat tidak boleh hormat bendera, lagu kebangsaan, dan tidak dibolehkan menghormati guru," ujar Sitinjak
Sedangkan Kedua orang tua mereka protes karena sebelumnya kedua anaknya tidak mengalami masalah ketika sekolah di Swasta Tiranas, pertanyanya kenapa sekarang dipermasalahkan ?. Apalagi kepercayaan mereka sudah mendapat sertifikat Agama..
Waduh, kok bisa ya ?
