Oleh Helmi Adam
Pesatnya kemajuan teknologi digital saat ini, telah membuat orang optimis
namun sekaligus membuat cemas. Tapi sebagian kecil lainnya malah menjadi orang kritis.
Yang optimis menilai, bahwa teknologi digital telah secara radikal mentransformasikan teknologi digital dan menjanjikan bentuk-bentuk komunitas
alternatif , inovatif, kreatif, kultur partisipatif, dan demokrasi melalui aktiviatas media sosial yang lebih emansipatoris.
Sedangkan kaum pesimis melihat, teknologi digital sama sekali tidak membawa
Perubahan positif, melainkan justru memperparah. Karena adanya perluasan dominasi melalui bentuk-bentuk kontrol yang baru, seperti jejaring otoritarianisme, dehumanisasi digital, alienasi 2.0, jejaring eksploitasi, dan bangkitnya surveillance society (C. Fuchs : 2019)
Blok optimisme itu utamanya ditopang oleh pemerintah, profesional, ilmuwan/akademisi/intelegensia leissure class, kaum konsumeris, dan warga yang terkategorikan diuntungkan oleh kehadiran teknologi itu.
Blok pesimisme diisi kaum buruh terancam atau mereka yang tergusur dan
Terancam tergusur atau mereka yang merasa dirugikan oleh kehadiran teknologi, dan kaum yang lemah atau yang mapan dengan kondisi saat ini.
Sedangkan blok kritisisme dihuni kaum yang menolak tunduk pada berbagai bentuk narasi kebenaran sistem pengetahuan sebagai kuasa tunggal.
Kendatipun hidup dan bernaung dalam ekosistem digital, Namun kaum kritis ini berani mengambil jarak dan mengalkulasi atas berbagai kemungkinan, potensi, risiko, limitasi, dan ideologi di balik setiap aktivisme digital yang dilakukannya.
Kaum yang terakhir ini, tidak mudah diklasifikasikan. Mereka berada dimana-mana, cair, dan berserakan sebagai multitude (Hardt & Negri 2004)
Namun tampaknya, muncul gejala blok kaum optimis tengah yang lebih dominan saat ini. Dominannya blok optimis itu berlangsung pada lintas jenjang struktural maupun gugus-sektoral, mulai dari tataran global, nasional, hingga lokal.
Pada level global, misalnya NSTC Committee on Technology (2016), menyatakan bahwa “kemajuan dalam 'kecerdasan buatan' (artificial intelligence/AI) telah membuka peluang-peluang dalam segenap gugus tugas manusia.” Demikian pula, seperti dilansir dalam New Zealand Herald (2017),
Dari empat kelompok tersebut, maka yang paling dirugikan adalah kelompok pesimisme, yang diwakili kaum buruh. Karena kaum buruh paling lemah daya tawar dan daya saingnya. Penggunaan Artificial Intelegence akan membuat pengangguran bertambah.
Pada kahirnay Revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Digital (istilah Saya buat), Kan menguntungkan kapitalis atau pemilik modal, kemudian pemerintah, kemudian professional,dan akamedisi saja. Yang lainnya akan tengelam dalam kubangan kesengsaraan digital.
Bayangkan jika AI digunakan semua dalam semaua aspek, mungkin pelacur tidak akan laku, karena di buatkan robot cerdasnya. Demikian profesi lain nya.
Yang pada Giliran nya akan kehilangan ruh kemanusian, empati, simpati, cinta dan kehidupan.
Dan akan terjadi krisis kehidupan manusia kedepan..
Penulis adalah Kelompok Kritisisme
