Peraturan Mentri Agama (PMA) No 29 tahun 2019 Tentang Majlis Taklim, yang baru di teken bulan November ini menjadi Viral di WA group. Pasalnya Aturan tersebut memuat tentang pendaftaran Majlis Taklim, pendanaan hingga bahan ajarnya.
Dalam aturan itu memuat BAB II pasal 6 Tentang Pendaftaran Majlis Taklim Harus terdaftar di Kantor Urusan Agama setempat. Pertanyaannya kenapa harus terdaftar ? bukan kah selama ini Majlis Taklim bersifat mandiri ?
Ternyata ada pasal lain yang mensyaratkan untuk memasukan 8 berkas, dalam mendaftarkan Majlis Taklim tersebut yaitu : harus ada Foto copy KTP pengurus, jamaah, ijin Domisili dan struktur pengurus, hal ini tercantum dalam Ayat 3 pasal 6.
Pada Bab III pasal 13 ayat 3 dicantumka, syarat ustadz dan ustadzah yang mengisi Majlis Taklim yaitu memilki pengetahuan agama yang baik. Kata baik disini bisa multitafsir.
Bab 6 pasal 16 ayat 3 adalah pembatasan materi majlis taklim, hanya boleh memberikan pelajaran, Aqidah,Syariah dan Akhlaq. Bagaimana dengan belajar membaca alqur an ? tidak boleh dong, karena tidak termasuk di ketiga tiganya, belajar mahrod dan nahwu, juga tidak boleh dong, begitupun belajar muamalah, siasah dll, haruskah dimasukkan dalam kerangka ketiga itu ? sementara agama Islam luas pengajaranya.
Yang menarik lagi adalah Bab IV pasal 19 ayat 1 pembinaan, dimana majlis taklim melaporkan kegiatannya pada KUA setempat dan ayat 3 yang menjelaskan cara melaporkan. Ditulis disitu laporan terdiri dari ; Pendahuluan, Bentuk, nama dan waktu kegiatan, sumber pendanaan dan tindak lanjut.
Saya tidak bisa bayangkan begitu slitnay ibu bu bikin laporan berkala ke KUA, dan yang paling menyakitkan adalah, duit duit ibu ibu, bukan duit pemerintah, kok harus dilaporkan ?. Kecuali departemen Agama membiyai kegiatan ibu ibu tersebut, maka memang ada kewajiban melapor. Selama uang mandiri jamaah, tidak ada kewajiban melapor.
Dan yang paling lucu PMA ini, tidak membuat sangsi. Jika tidak mendaftar. Walaupun ditulis harus, tapi kalau tidak mendaftar juga tidak apa apa kan
