Pada suatu saat Pak Kyai kedatangan tamu. Orang pertama bertanya kepada pak kyai,” Manakah yang lebbig utama mengerjakan dosa besar atau dosa kecil
“Jelas mengerjakan dosa-dosa kecil lebih utama,” jawab pak Kyai.
“Apa argumentasinya,” kata si penanya.
“Tuhan lebih mudah mengampuni,” jawab pak Kyai.
Jawaban tersebut membuat si penanya merasa puas.
Kemudian datang orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, mengerjakan dosa besar atau dosa kecil?”
Pak Kyai kemudian menjawab,”Orang yang tidak mengerjakan keduanya.”
“Apa alasannya?” katanya.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, maka tidak memerlukan lagi pengampunan dari Tuhan,” jawab Abu Nawas.
Jawaban itu membuat si penanya juga merasa puas.
Dan datanglah orang ketiga bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang iebih utama, mengerjakan dosa besar atau dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa besar,” jawab pak Kyai
Jawaban tersebut membuat si penanya ketiga kaget. “ Apa dalilnya ?” katanya.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba twersebut,” jawab Pak Kyai singkat.
Orang ketiga pun menerima argumen Pak Kyai dengan senang. Dan pulang dengan rasa puas.
Kemudian saya yang kurang mengerti ini bertanya pada Pak Kyai, “Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”
“Manusia dibagi tiga tingkatan”kata pak Kyaa. Tingkatan pertama adalah tingkatan mata, selanjutnya tingkatan otak dan terakhir tingkatan hati.”
“Apakah tingkatan mata itu?” tanya saya.
“Seperti anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata,” jawab Abu Nawas dengan memberikan pengandaian.
“Sedangkan tingkatan otak itu?” tanya si murid
“Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan,” jawab pak Kyai.
“Lalu untuk tingkatan hati itu?” tanya saya selanjutnya.
” Untuk tingkatan hati seperti orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la mengatakan bahwa bintang itu kecil. sedangkan dirinya tahu bahwa bintang itu besar. Sebab orang yang mengerti, tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Maha Besarnya Allah,” katanya.
"karena Mata hanya mampu bisa tahu apa yang bisa dilihatnya, dan yang hanya biaa dilihat adalah materi ciptaan Allah. seperti orang orang Atheis, yang hanya bisa menangkap sesuatu dengan matanya, sehingga dia tidak percaya adanay Allah, karena tidak bisa dilihat dengan matanya." Lanjutnnya
"Sedangkan orang yang memiliki otak dan kepandaian bisa melihat dengan logikanya sehingga dia tahu keberadaaan Allah dalam ruang dan waktunya, mereka tak bisa melihat sesuatu yang bebas ruang dan waktu, hanya hati yang mampu menggapai sesuatu yang bebas ruang dan waktu. termasuk keberadaan Allah yang bebas ruang dan waktu." jelas pak Kyai.
Jadi berbahagialah orang yang mencapai tingkatan hati, karena luasnya hati lebih luas dari luasnya otak. Hati bisa mencapai sesuatu diluar jangkauan mata dan otak, yaitu untuk mencapai ma'rifatullah.
"karena Mata hanya mampu bisa tahu apa yang bisa dilihatnya, dan yang hanya biaa dilihat adalah materi ciptaan Allah. seperti orang orang Atheis, yang hanya bisa menangkap sesuatu dengan matanya, sehingga dia tidak percaya adanay Allah, karena tidak bisa dilihat dengan matanya." Lanjutnnya
"Sedangkan orang yang memiliki otak dan kepandaian bisa melihat dengan logikanya sehingga dia tahu keberadaaan Allah dalam ruang dan waktunya, mereka tak bisa melihat sesuatu yang bebas ruang dan waktu, hanya hati yang mampu menggapai sesuatu yang bebas ruang dan waktu. termasuk keberadaan Allah yang bebas ruang dan waktu." jelas pak Kyai.
Jadi berbahagialah orang yang mencapai tingkatan hati, karena luasnya hati lebih luas dari luasnya otak. Hati bisa mencapai sesuatu diluar jangkauan mata dan otak, yaitu untuk mencapai ma'rifatullah.
