Akhirnya saya diterima kerja disebuah perusahaan percetakan besar tahun 1995. Selesai saya kasih tau ibu, saypun cepat menemui sang Kyai kampung, yang juga seperti ayah saya.
" Assalamualakum "ujar saya.
"walaikum salam" Jawab pak kaai, sambil tersenyum. Syapun langsung mencium tangan pak Kyai dan memeluknya sambil berbisik, "Alhamdulilah pak Kyai saya diterima sebagai manager."
Pak Kyai menyuruh saya duduk, pak kyai minta diceritrakan bagaimana proses wawancara sampai saya diterima kerja.
Sayapun berceritra dari awal, begini ceritranya.
Saya putra tidak suka tinggal di rumah, makanya sejak kulaih saya kost, pak kaai, arena ibu dan Ayah selalu ‘ngomel’; sayakan tidak kalau ayah mengomeli saya untuk hal-hal kecil seperti ini..
"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton"
“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka ketika menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati saya berkata: "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikiran saya pak kyai.
"Astagirullah " ujar pak Kyai.
Saya hanya tertunduk malu.
"Terus kan ceritranya" pinta pak Kyai
sayapun melanjutkan kisah saya,
Ketika hendak pergi untuk interview, ayah berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.. ” Ayah members saya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara..
Setiba di pusat wawancara, saya perhatikan tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel
saya geser gerendel ke posisi yang benar pak kyai, kemudian saya menutup pintu dan masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan saya lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak.
Akhirnya saya angkat selangnya, dan saya letakkan di dekat salah satu tanaman, kemudian saya melanjutkan kembali.
Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, untungnya ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. . saya perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. saya jadi ingat omelan ayah yang terngiang di telling saya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" saya merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun saya tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar saya lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, saya jadi bertanya-tanya, apakah masih ada peluang bagi saya untuk diterima?
sayapun menuju aula dengan sedikit gentar, dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" .
Saya perhatikan karpet itu terbalik. Spontan saja saya betulkan, walau dengan sedikit kesal.
saya lihat di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, dan sayapun matikan kipas yang tidak dimanfaatkan dan saya duduk di salah satu kursi yang kosong..
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Nah, tibalah giliran saya pak Kyai, saya masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pésimas sebenarnya..
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja?"
Saya terkejut, dan saya pikir, "ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu?" saya bingung pak kyai.
Apa yang kamu pikirkan?" tanya si bossnya, lalu ia melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut..
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon..
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu..
kamu satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih kamu ”
Dek..Hati saya terharu, saya jadi ingat ayah..
Ayah yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu dan ayah. Kind saya menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orangtuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang Saya inginkan..
Kekesalan dan kemarahan saya pada ayah seketika sirna....."hanya Kamu satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini......."
Ayah, ma'afkan anak saya, bisik saya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Saya akan minta maaf kpd ayah, saya akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya..
Dan sayapun menangis dihadapan pak kyai
Pak Kyai kemudian menyuruh saya pulang ke rumah ..
"Apapun yang orangtua katakan pd anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang balk!" ujar pak Kyai.
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya. Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yg dipahat dan dibuang dari diri kita...Jelas Pak Kyai.
"Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.."lanjut pak Kyai.
"Ayah dan ibu adalah pahlawan yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan..Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan.." Tutup pak Kyai mengakhiri pertemuan hari ini
#Tulisan Ini untuk Rajesh, Raihan Ayesha anak-anak papa tercinta.._