Inilah Curhat Karyawan TVRI Pada Helmi Adam Channel, Sungguh Prihatin ?



24 Agustus 1962, Televisi Republik Indonesia (TVRI) mengudara pertama kali sebagai stasiun televisi pertama di Indonesia dgn semangat heroik dan nasionalisme.

Saat itu, TVRI menyiarkan secara langsung pembukaan Asian Games 1962 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Seiring perjalanan waktu yg kini memasuki era reformasi , tvri berevolusi secara alamiah terkait siaran maupun teknologinya. Dengan anggaran 1,1 trilyun rupiah per tahun saat ini, tvri berdampingan  dengan TV Swasta yang sudah modern dan berprofit tinggi. Jika menilik TV pemerintah di negara-negara lain seperti NHK di jepang, BBC di inggris dan ABC di australia yang memiliki kualitas tayangan yang baik seharusnya TVRI juga bisa seperti televisi televisi yang disebut diatas  

Dinamika yang sangat dinamis di internal TVRI juga menjadi catatan panjang sejarah perjalanan TVRI.  Dengan terseok tvri mencoba untuk dilirik penonton dirumah rumah, walaupun saat ini adalah masanya era digital.  Teknologi informasi serta era media sosial membuat TVRI,seolah olah tidak sanggup  melawan itu sehingga terus mencoba melakukan sejumlah terobosan dengan membeli program program asing seperti liga inggris, discovery chanel dan film film asing  jaman dahulu, bahkan memproduksi kuis yang sudah lama ditinggal penonton. Harapannya penonton mau melirik Cembali. 

Namun apadaya, dari sinilah justru petaka itu muncul karena anggaran TVRI diduga tersedot ke arah itu karena membeli program asing dan memproduksi acara yg ratingnya rendah. 

Selama dua tahun karyawan TVRI merasakan akibatnya, tahun 2018 tertunggak 7,6 milyar uang honor SKK karyawan yang tidak terbayarkan. Sehingga terpaksa dibayar cicil pada tahun 2019. di tahun 2019, TVRI kembali menunggak honor SKK karyawan beberapa bulan, dan kemungkinan besar tidak akan terbayarkan kembali.   

Honor SKK atau Satuan Kerabat Kerja sebenarnya tidaklah besar jumlahnya, hanya puluhan ribu saja tetapi jika berbulan bulan, dengan ratusan nama karyawan, maka akan terakumulasi mencapai milyaran rupiah.   Ditengah perekonomian masyarakat yang sangat lesu saat ini, tentunya pembayaran honor itu sangatlah berarti. Apalagi tunjangan kinerja yg dinanti nanti tidak kunjung tiba, sehingga pembayaran honor bagi karyawan rendahan sangatlah berarti. 

Akibatnya berdasarkan penelusuran tim kami, ada karyawan yang lebih mementingkan membeli kebutuhan pokok didapur , membayar uang sekolah / kuliah anaknya dan membeli susu anak terlebih dahulu, dibandingkan harus pergi kekantor yang memerlukan ongkos lumayan bagi mereka.    

Bagi sebagian besar karyawan rumah tinggalnya, banyak berada dipinggiran kota Jakarta sehingga memerlukan ongkos yang lumayan. Sementara TVRI tidak menyediakan rumah untuk karyawannya. situasi yg ironis bagi karyawan lembaga sebesar TVRI bukanlah isapan hempol . karena   diketahui ada sekitar 1.500 orang karyawan TVRI stasiun pusat Jakarta baik itu berstatus pegawai negeri sipil, PBPNS ( Pegawai Bukan Pegawai Negri Sipil ), honorer dan outsorching, memiliki Gaji  atau honor yakni antara 2,5 juta hingga 4,5 juta rupiah perbulannya.

Berbanding terbalik dengan Gaji Dewan Direksi yg mencapai puluhan juta rupiah perbulannya belum ditambah fasilitas dan tetekbengek lainnya. Dua tahun situasi ini dilalui sebagian besar karyawan TVRI, merasakan mirisnya keuangan TVRI.   

Sehingga di TVRI ada  koperasi yang menjadi primadona karena bisa meminjamkan uang bahkan saking primadonanya ada pejabat strukral dan  salah seorang pimpinan tertinggi TVRI pun meminjam uang di koperasi.

Kondisi miris sebagian besar karyawan TVRI ini, luput dari pemberitaan, dan perhatian publik ditengah hingar bingarnya dunia politik dan hiburan tanah air. Sampai kapan nasib  TVRI  terus brgini..???

Kale akat Ebiet G Ade "Tanya pada rumput yang bergoyang", tapi saat ini, rumputnya pun sudah tidak ada lagi, masa kita mau tanya sama beton, memang beton bisa begoyang ? (Mungkin Kalau Gempa Terjadi )

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama