Inilah Kisah Begundal Kerawang Yang Terlupakan ?




MENGENANG PERISTIWA PEMBANTAIAN RAWAGEDEH - KARAWANG 72 TAHUN LALU PENGGALAN KISAH TARSA....

Rawagedeh. 9 Desember 1947,Gelap masih pekat... dingin masih menyelimuti Karawang dan sekitarnya, kampung Rawagedeh seperti juga kampung kampung di sekitarnya, masih sangat terlalap dalam gelap dan dinginnya malam menjelang pagi....

Tapi di malam menjelang pagi itu, tanpa di sadari penduduk kampung di seputar Rawagedeh, ada ratusan pasang sepatu lars Tentara Kerajaan Belanda, berjalan,  mengendap dan menyebar sembari menutup semua jalan keluar dan masuk ke satu kampung!.... Rawagedeh!

Ya... Rawagedeh sudah di pilih oleh satuan KL dari markas mereka di Cikampek, untuk di jadikan target operasi. Tujuan operasi kali ini 2 nama, yakni K.H. Noer Alie alias si belut putih dan target resmi nya adalah kapten TNI dari Divisi  Siliwangi sang " begundal dari Karawang"....

Intel tentara Belanda, rupanya sudah lama mengendus keberadaan markas sang begundal dari Karawang ini yang berada di desa Rawagedeh, hanya karena medan dilapangan dan simpati penduduk yang membuat tentara Belanda sulit memasuki desa Rawagedeh pada siang hari, sudah 3 kali di awal tahun 1947, tentara Belanda coba masuk ke desa itu pada siang hari, kesemuanya gagal. Rupanya tiap tentara Belanda mulai masuk dari arah Tanjungpura, penduduk biasanya sudah memberi peringatan pada TNI di Rawagedeh agar melarikan diri, biasanya dengan membunyikan kentongan ramai ramai dan biasanya langkah ini berhasil.

Kondisi medan di seputar Rawagedeh pun secara geografis sangat menguntungkan dari segi militer terutama Pihak TNI (kapten Loekas red), dengan hanya 1 jalan utama dan di kelilingi sawah yg luas, maka akan sangat mudah terlihat bila ada gerakan tentara Belanda yang akan memasuki Rawagedeh, ditambah dengan pembuatan berikade  dan perusakan jembatan oleh penduduk dan TNI, maka sangat sulit bagi tentara Belanda memasuki wilayah ini, terutama siang hari, maka di pilih penyerbuan malam hari dan dari arah masuk yang berbeda.

Dari arah Karangsari lah tentara Belanda mulai bisa mendekati desa " bandel" ini, walau jalan memutar dan waktu malam menjelang pagi buta, pasukan infantri Belanda sekitar 300 orang, akhirnya  tentara Belanda masuk ke desa Rawagedeh.

Di saat yang bersamaan. Tarsa kecil masih lelap dalam tidur di bale bambu bersama ibunya, sedang dua paman Tarsa, Sengkin dan Kotol juga masih merangkuk dalam mimpi di bale bambu tengah rumah Tarsa.

Tiba tiba, dari arah pintu depan...

" buka!... buka, keluar semua lelaki yang ada di dalam!"....teriakan keras sembari di sertai bunyi gedoran pintu rumah...

Kedua paman Tarsa kecil terbangun sembari masih bengong, tak tahu ada apa, ibu Tarsa bergegas mendekati pintu, sebelum sempat dibuka, pintu terbuka dengan keras dari luar, masuk 3 tentara Belanda baju lereng dan membawa senjata......

" Mana laki laki di rumah ini!"......bentak seorang Serdadu Belanda ( kulit nya item, bukan bule, pake bahasa indonesia,.. cuman itu yg Belanda item, nyang 2 bule...tutur kong Tarsa), ibu Tarsa hanya menatap takut, serdadu itu melihat 2 anak tanggung yang baru bangun karena kaget, ya kedua anak tanggung itu paman Tarsa masih berusia 14 dan 15 tahun, Sengkin dan Kotol adalah adik ibu Tarsa mereka memang tinggal di rumah Tarsa.

Tanpa memperdulikan jeritan ibu Tarsa dan tangis ketakutan kedua paman Tarsa, mereka di seret dan digiring bersamaan dengan ratusan laki laki di desa itu di pagi buta 9 Desember 1947. Ibu Tarsa berusaha mengejar adik adiknya, tapi serdadu item tadi menghardik dan mengangkat popor senjatanya.....

" kembali!... mau di bawa sekalian apa!!"...

Menangis ibu Tarsa di depan rumah bambu mereka dan sama juga yg dilakukan ibu ibu lain di kampung itu di pagi berdarah itu.... dan semua itu saksikan Tarsa kecil juga sembari menangis, tak tahu ada apa, kenapa paman pamannya di bawa tentara itu. menangis karena ibunya juga menangis...

Sampai akhirnya dari jauh terdengar suara tembakan,... semua  diam, waktu seperti berhenti.... hanya tangis di semua rumah yang laki laki nya di ambil Serdadu.....sampai sekitar jam 6 pagi, wanita di desa itu mulai mengumpulkan mayat mayat di depan toko milik orang Tionghoa satu satunya di desa itu, toko milik Tongwan.....

Di depan tanah luas toko itu, mayat bergelimpangan.... dengan posisi rata rata berbasis dan dengan lubang peluru di belakang badan atau kepala.... ada juga yg seperti nya mencoba lari tapi tertembak, karena posisi mayat sudah di deket sawah...

Tarsa kecil mengikuti ibunya untuk mencari paman nya.... mencari kedua pamannya tak susah, ibu hapal celana pendek mereka berdua, sembari menangis ibu Tarsa, menyeret kedua adiknya dibantu Tarsa kecil ke halaman rumah mereka, ala kadarnya Ibu Tarsa dan Tarsa yang saat itu berusia 8 tahun, memakamkan kedua paman nya, Tarsa sudah berhenti menangis, sedang sang ibu masih sembari menangis memakamkan kedua adiknya....

Sampai sekarang Tarsa tak pernah tahu... " apa salah mamang gw?... Ko di matiin?"....

RAWAGEDEH...  2 JULI 2016.seperti di tutur engkong Tarsa. Kong Tarsa sudah berpulang tahun 2017 lalu..

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama