Muwafiq Jangan Kau Jadi Munafiq, Hargailah Orang Tuamu ?
Ceramah Muwafiq pada pengajian Maulid yang kontroversial itu, secara substansinya, memang keliru, dan bukan hanya tidak tepat tapi "keblinger". Seperti orang Munafiq yang senang memecah belah umat. ditengah terkoyaknya persatuan umat.
Saya menonton dan melihat mimik wajahnya beberapa kali, seperti menyepelekan dan mengentengkan (istikhfaf) terhadap “khilafiyah” (perbedaan pendapat/perbedaan versi riwayat) mengenai Kelahiran Rasulullah Muhammad (shallallahu ‘alahi wa sallam).
Muwafiq menafikan dan mementahkan pendapat-pendapat ulama tentang adanya pancaran sinar pada Rasulullah saat dilahiran. Ekspresi wajahnya kala mengisahkan semua itu memang menyinggung, dan sungguh tak patut. Bukan cerminan adab selayaknya orang yang mencintai Rasulullah. Tidak adaada wajah ayng mengekpresikan penghormatan) terhadap nama Rosul allah.
Pada subtansi sua justou melihat beberapa persoalan seperti soal ada-tidaknya cahaya Nabi pada moem kelahiran, kondisi Nabi di masa kanak-kanak yang pernah “rembes” tau ingusan, atau terkesan dekil.
karena masa kanak-kanak Nabi yang disebut-sebut tidak begitu terurus oleh kakeknya, Sayyidina Abd Muththalib r.a. bahkan smepat mengatakan bisa jadi kalau ada jambu maling jambu.
Namun ketika dia menyatakan maaf, ekpresinya pun tidak ada penyesalan, malah melakukan pembelaan dengan mengatakan ceramah itu untuk anak milenial yang bertanya tentang cahaya nabi saat lahir gimana menjelasknya. Padahal kalau tidak memiliki kemampuan lebih baik tidak usah menjelaskan, mengakui kekurangan lebih baik dari pada terlihat SOTOY..
Padahal untuk mengeksplorasi dimensi-dimensi “cahaya” pada momen persalinan ibunda Rasulullah, Sayyidah Aminah r.a., dapat dilakukan dengan penalaran logis, filosofis, atau metafisik, backan metafors. Superti penelitain ilmaiah yang dilakukan di AS tentang wajah manusia aka terliahat jelke pada jam 2 siang sampai jam 5 sore, karena lelah, atau suntuk, Tapi nabi tidak mengalami hal itu, karana hati yang bersih memyebabkan wajahnya selalu bersinar dan berseri.
Namun dengan gaya “realisme vulgar”, Munafiq, eh maaf salah ketik, maksudnya muwafiq, memaknai cahaya sebagai “sinar” yang bisa dilihat dan diukur secara fisik.
Memang, salah satu di antara riwayat bersanad Shahih yang kita terima mengenai hal ini adalah hadits riwayat ‘Irbadh bin Sariyah r.a., yang mengandung kata-kata Rasulullah menyifati kelahiran beliau:
ورؤيا امي التي رأت
“dan mimpi ibundaku yang melihat (sesuatu pada saat kelahiranku)”.
Yang diberi penjelasan oleh Sayyidina ‘Irbadh:
وان ام رسول الله ﷺ رأت حين وضعته نورا اضائت له قصور الشام
“Dan ibunda Rasulullah (shallahu ‘alaihi wasallam) (bermimpi) melihat cahaya, kala melahirkannya, yang membuat gemerlap istana-istana Syam” (HR Ahmad, Ibn Hibban, dan Al-Hakim dengan sanad Shahih pada riwayat Ahmad).
Dari sinilah kita mengenal kekayaan narasi yang disajikan para ulama pengarang kitab Maulid. Seperti kata-kata Imam Abdurrahman Ad-Diba’i :
فاشرق ببهائه الفضا وتلألأ الكون من نوره واضا
“Maka memancarlah dengan pesonanya medan luas (dunia dan hamparannya), dan alam semesta menjadi gemerlap dari cahayanya dan bersinar”.
Atau kita mengenal dalam kitab Maulid Imam al-Barzanji yang sangat populer redaksi berikut:
وتدلت اليه ﷺ الأنجم الزهررية , واستنارت بنورها وهاد الحرم ورباه , وخرج معه نور اضائت له قصور الشام القيصرية , فرأها من ببطاح مكة داره ومغناه
“dan mendekatlah kepadanya (Rasulullah) bintang-bintang (Sayyidah Aminah) Az-Zuhriyah; pelataran-pelataran tanah Haram dan pelosoknya menjadi terang; dan bersama (kelahirannya) keluar cahaya yang membuat gemerlapan istana-istana kekaisaran Syam; maka melihatnya orang-orang di lembah Makkah, negeri dan tempat kecukupannya”.
Apakah narasi-narasi ini mengada-ada ? mungkin Muwafiq belum mencapai kecintaan terhadap rasullullah seperti penulis kitab Maulid, Imam ad-Diba’ie atau al-Barzanji, yang bukan orang sembarangan dan memiliki “bashirah” (mata batin) dalam memaknai kelahiran Nabi (Rata-rata para penulis Maulid adalah para ulama yang masyhur telah berkali-kali mengalami mimpi bertemu atau ditemui Rasulullah).
Singkatnya, cahaya kelahiran Rasulullah mungkin saja tidak terlihat dengan indera mata pada level ‘Ilm al-Yaqin, namun bisa ditangkap pada dua level di atasnya (‘Ain al-Yaqin dan Haqq al-Yaqin).
Tapi yang jelas motif untuk memudahkan pemahaman generasi milenial tidak dapat dijadikan alasan untuk menafikan kemungkinan memaknai cahaya itu secara fisik.
Jadi Nur itu meliputi aspek lahir maupun batin. Kalau niatnya untuk pemahaman generasi milenial saya meragukan alasan itu, mengingat peserta pengajian rata-rata orang tua di desa tersebut. (Lihat Videonya).
Untuk memperdalam keimanan dan pemahaman atas dimensi-dimensi pencahayaan Rasulullah, sufi besar dari Andalusia, Imam Ibnu Sab’in (wafat 669 H), telah menulis tentang hal ini, “Anwar an-Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) Asraruha wa Anwa’uha” (Cahaya-cahaya Nabi: Rahasia dan Ragamnya).
Di dalam banyak riwayat, masa kecil Nabi, pernah ditimpa sakit mata ringan (ramad). Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Itu semata-mata bukti bahwa jasad seorang Nabi pun bisa sakit, namun sakit yang manusiawi dan tidak merusak fitrah kenabiannya.
Namun, ini tergantung dari apa yang di kåtakan Muwafiq dengan kata “rembes”, memiliki rmakna peyoratif, maka mengandung unsur penghinaan. Di tambah lagi, dikatakan dengan mimik dan intonasi yang terkesan menyepelekan, sehingga penonton pasti akan berpikir, ini adalah penghinaan.
Yang paling menyesakkan hati adalah menyebut masa kanak Rasulullah tidak terurus. Padahal secara tekstual dan logis, bertentangan dengan dua ayat dalam surat Adh-Dhuha:
ما ودعك ربك وما قلى
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu”
الم يجدك يتيما فاوى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)”
Secara logis, bagaimana mungkin Allah (subhanahu wa ta’ala) akan membiarkan telantar tak terurus seorang anak yang kelak dipersiapkan-Nya sebagai Kekasih dan Pembawa Risalah-Nya? Tanpa perlu berspekulasi lebih jauh, berbagai riwayat telah menunjukkan, meski masa kanak Nabi dipenuhi duka-nestapa, beliau tidak telantar dan senantiasa memperoleh pengasuhan terbaik dari orang-orang di sekelilingnya.
yang paling menyedihkan saya sebagai warga NU mengecam Muwafiq dianggap sebagai “kadrun” atau “FPI”, hal ini sangat bias, seolah olah orang NU tidak Cinta Rasulullah. Padahal banyak suara dari majelis shalawat, dari kalangan Habaib dan kiai yang tidak berpolitik praktis, menunjukkan bahwa reaksi atas Muwafiq bukan semata-mata dari kelompok “Islam radikal”. Ia juga datana dari kalangan moderat NU sendiri, atau yang dekat pada kultur Nahdliyin.
Menempelkan predikat sesama Muslim sebagai “kadrun” (“kadal gurun”) , merupakan bentuk “sabb al-muslim” (mencaci sesama Muslim), yang sangat dilarang Rasulullah. Atas nama membela seorang tokoh dari tuduhan “sabb an-Nabi”, kita tega melakukan “sabb al-muslim”. Ini lingkaran setan ujaran kebencian yang sedang membelit umat Islam Indonesia, tak terkecuali kaum yang mengaku “moderat”.
Maka dari itu judul tulisan ini, lebih menghimbau Muwafiq agar tidak jadi orang munafiq, dan menghargai warisan ilmu yang diberikan Orang tuanya, dengan membiayai nya kuliah di IAIN.
Penulis Warga NU Kebanyakan karana sifatnya rangkuman.
