Hari ini salah satu dedengkot Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dr H Sulastomo, genap berusia 80 tahun. Cukup berumur namun masih produktif. Buktinya, di hari ulang tahun kelahirannya Sulastomo tampil dalam diskusi buku yang ditulisnya berjudul: Sulastomo 80 Tahun Katur Ibu.
Diskusi dan peluncuran buku Sulastomo itu sendiri cukup ramai. Sejumlah tokoh hadir. Di antarnya mantan Wapres Jend (purn) Try Soetrisno, politisi kawakan Akbar Tandjung, Harry Tjan Silalahi, Nazar Nasution, Umi Cia, dan budayawan Taufiq Ismail.
Yang menarik hadir pula Ibunda Sandiaga Salahuddin Uno, Mien R Uno, KH Amidhan, Didik J Rachbini, dan temu undangan lainnya.
Sebagai tuan rumah KAHMI Center, tempat diskusi dan peluncuran buku Sulastomo, hadir Koordinator Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Prof Dr Siti Zuhro, Sekjen MN KAHMI Manimbang Kahariady, Alfan Alfian, dan lainnya.
Dr H Sulastomo adalah tokoh HMI era masa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Sulastomo menjadi Ketua Umum PB HMI saat PKI dengan getolnya ingin membubarkan HMI.
Di era itu pula, Sulastomo memimpin HMi di saat terjadi gerakan aksi Tritura, Tiga Tuntuta Rakyat kepada pemerintahan Soekarno di tahun 1966. Saat HMI ingin dibubarkan oleh Bung Karno, Sulastomo dalam posisi bertahan. HMI dianggap organisasi yang kontra revolusi dan berafiliasi dengan parpol yang berseberangan dengan Bung Karno.
Upaya pembubaran HMI didengungkan sendiri oleh Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit melalui organ sayap dan underbow PKI. Pada kongres II Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) pada 28 September 1965 (3 hari sebelum G 30S PKI), DN Aidit mendesak Bung Karno membubarkan HMI.
DN Aidit bahkan menantang CGMI dengan kalimat “Jika tidak
bisa membubarkan HMI, maka sebaiknya pakai sarung saja”.
bisa membubarkan HMI, maka sebaiknya pakai sarung saja”.
Di saat itulah CGMI terus bergerak untuk memprovokasi pembubaran HMI. Atas pembelaan umat Islam dan kerasnya perjuangan kader-kader HMI, organisasi mahasiswa terbesar itu tidak bisa dibekukan. Peran Menteri Agama saat itu, Saifuddin Zuhri, ikut meyakinkan Bung Karno agar tidak membubarkan HMI.
Setelah HMI gagal dibubarkan, Seluruh petinggi PB HMI diterima Bung Karno di Istana Negara. Delegasi HMI itu dipimpin Katua Umum Sulastomo dan dihadiri Nurcholish Madjid, Mar’ie Muhammad, Ahmad Nurhani, Ecky Syahruddin, Firdaus Wajdi, dll.
Dr H Sulastomo MPH lahir di Surabaya 80 tahun silam. Dia menyelesaikan study SMA di Negeri I Surakarta pada 1957, terus melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan selesai pada 1964. Gelar Master of Public Health diperolehnya dari University of Hawaii AS pada 1977.
Dalam buku “Sulastomi 80 Tahun Katur Ibu” Harry Tjan Silalahi ikut menulis testimoni tentang persahabatannya dengan Sulastomo. Harry Tjan memanggil Sulastomo dengan sebutan Mas Tom.
Harry Tjan adalah sahabat Sulastomo saat mahasiswa namun berbeda organisasi dan keyakinan. Sulastomo Ketua Umum PB HMI sedangkan Harry Tjan Silalahi Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKRI).
Dalam diskusi peluncuran buku sore tadi, Harry Tjan Silalahi mengaku sangat karib dengan Sulastomo. Meski beda agama dan keyakinan, kata Harry Tjan, dirinya terus berma. Sejak masa mahasiswa di zaman Bung Karno, di zaman Pak Harto, dan di zaman orde reformasi ini.
“Waktu HMI ingin dibubarkan, hanya PMKRI satu-satunya organisasi mahasiswa yang terang-terangan menolak pembubaran HMI. CGMNI, GMNI, dan lainnya ikut ingin membubarkan HMI,” kata Harry Tjan Silalahi, Jumat (31/8).
Dikatakan, pada 1960-1966, belum ada organisasi mahasiswa Islam yang memiliki banyak anggota selain HMI. Memang sudah ada organisasi ekstra universiter Islam lainnya, tapi baru bribik-bribik, baru mulai dibangun.
“Mas Tom berhasil memimpin HMI karena Ia seorang cendikiawan muslim yang terbuka, tidak fanatik maupun ekstrim, dan justru bisa menyatu dengan semangat kebangsaan Indonesia,” kata Harry Tjan.
Harry mengatakan, melihat usia Mas Tom, harusnya sudah berhenti. Ternyata usia bukan ukuran untuk berhenti berpikir atau berkarya.
“Mas Sulastomo masih rajin menulis untuk memaparkan ide-idenya guna disumbangkan kepada pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada,” katanya.
Salah satu ide besarnya adalah konsep jaminan kesehatan nasional. Konsep Sulastomo ini akhirnya berevolusi dan menjadi program jaminan kesehatan dengan wujudnya BPJS Kesehatan sekarang ini
