By Helmi Adam
Pandemi Covid-19 memgakibatkan resesi global karena banyak negara menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) yang menyebabkan roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.
Dalam laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang diberi judul The Great Lockdown yang dirilis pertengahan April lalu,) memperkirakan ekonomi AS akan mengalami kontraksi pertumbuhan minus 5,3% pada tahun ini.
Tetapi di tahun 2021 diprediksi perekonomian global bangkit dan tumbuh 4,7%. Hal ini berarti kurva perekonomian akan menjadi V-shape, artinya ekonmi global akan mengalami merosot dengan cepat, tetapi bangkitnya juga cepat.
Sayangnya saya meragukan hal tersebut terjadi, bahkan saya prediksi kurva akan berbentuk L-shape, hal itu artinya perekonomian merosot dan membutuhkan waktu lama untuk bangkit. Sehingga prediksi saya ekonomi global akan mengalami depresi di tahun 2021.
Saya sepandapat dengan prof Nouriel Roubini dari New York University's Stern School of Business yang juga chairman dari Roubini Macro Associates LLC. Sebelumnya prediksi Roubini di tahun 2008 akan terjadi krisis finansial global dan tepat sekali.
Seperti pernayataannya yang dialansir Kitco, " saya khawatir ada beberapa tren besar... yang saya sebut '10 Deadly D' yang akan membawa kita memasuki masa depresi di dekade ini." katanya
Lalu apakah yang dimaksud '10 Deadly D' oleh Roubini ?
yang di amksud 10 deadly D adalah Debt atau Hutang, Defisit, Deglobalisasi, Devaluasi, hingga Disrupsi lingkungan.
Sekarang kita lihat ke Indonsia, Dimana Pendapatan Negara turun dr Rp2.233 T menjadi Rp1.760 T. Sedangkan Belanja Negara Naik dr Rp2.540 T menjadi Rp2.613 T.
Sehingga terjadi kenaikan Defisit Anggaran dr Rp307,2 T menjadi Rp852,9 T.
Untuk menutupi defisit (Rp852,9 T) tersebut, Pemerintah berencana menganggarkan melalui Hutang.
Hal ini menyebabkan Hutang membengkak defisit naik. Untuk bisa membuat stimulus ekonomi disaat krisis pemerintah secara teori di tahun 2021, harus melakukan belanja sementara hutang semakin besar, maka ketergantungan pada pemberi hutang semakin besar. Jika kita mengandalkan hutang dari Cina maka Cina akan menggunakan hutang sebagai alat untuk pertumbuhan ekonominya. yaitu dengan mewajibkan penggunaan tenaga kerja asal cina, dan bahan baku dari cina, dan cina pun yang membeli barang kita. artinnaya kiata kecil sekali mendaat manfaat multiflyr effectnya
Akibatnya rakyat terkena PHK,daya beli dalam negri menurun dan terjadi Depresi di Indonseia dan Dunia di tahun 2021 yang dampaknya akan mengerikan.
Dari mulai korupsi hingga kriminalitas, hal ini bisa menyebabkan NKRI Bubar. Karena Negara di ekploitsi gila gilaan oleh pemberi hutang.
Dan Ironisnya manfaat hutang tidak dirasakan rakyat, sesuai dengan pernyataan Menko Maritim dan Investasi Bahwa Bulan Juli Pekerja Cina siap masuk lagi ke Indonsia sementara koran PHK masih banayak yang nganggur, makin terpuruklah NKRI. Siapa yang tanggung Jawab jika Prediksi saya terjadi ?
Penulis adalah Direktur Syafaat Foundation Indonsia
Sumbangan anda ditunggu di @dam Channel Peduli, No Rek BCA 4730598926 A/N Ayesha Adhanirizky Adam
