Kronologis Pembebasan 500 Sandra Dari Ancaman Mati di Wamena?



Sungguh Sadis, dan tidak beradab, sekitar 600 warga , Senin (23/9/2019) lalu, di Wamena Kabupaten Jayawijaya, sempat disandera oleh masa aksi Papua Merdeka. Bahkan sejumlah warga dibakar hidup-hidup oleh perusuh tersebut.

Hal ini diungkap Amores saat ditemui di Baseops Lanud Silas Papare Sentani Kabupaten Jayapura, Kamis (26/9/2019), Seperti dilansir Sindo news.com.

 "Kami dijadikan sandera dari siang sampai malam, sekitar 10 jam. Mereka bawa parang semua, info yang kami dengar, mereka juga bawa senjata juga. Mereka minta pendemo yang diamankan polisi dibebaskan,"kata dia.

Dikatakan, ratusan warga yang disandera itu, puluhan adalah bayi dan anak-anak, termasuk juga ibu hamil. "Mereka brutal, mereka itu bukan manusia, banyak bayi, ibu hamil juga ada. Mereka bakar satu keluarga, dimasukkan dalam Honai lalu dibakar. Ada juga yang dipaksa masuk mobil lalu dibakar. Mereka biadab," ungkapnya geram.
"Bapak aparat, bantulah mereka yang ada disana, tidak aman disana, tolong bantu mereka untuk evakuasi," sambungnya.

Ratusan warga yang disandera masa pendemo yang  ditunggangi kelompok separatis Papua Merdeka ini, adalah warga dipinggiran kota Wamena, tepatnya di Pike (Daerah jalan Trans Papua). 

Saat  warga hendak mengungsi ke kantor DPRD, Polres, Kodim dan Koramil yang berada ditengah kota Wamena. warga malah ditahan dengan masa perusuh, yang berada dipinggir kota.

Warga dikumpulkan oleh massa perusuh di dalam satu tempat yaitu di dalam Gereja Kibaid dan Honai sebagai jaminan. Dengan tuntutan aparat keamanan membebaskan 6 orang massa perusuh yg di amankan oleh apkam.

Negosiasi dimulai sekitar pkl 12.00, dan berlangsung sangat alot karena aparat keamanan, tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut. Massa perusuh sudah memblokade, dan juga mengancam apabila Aparat Keamanan  melintasi wilayah yang di blokade tersebut, maka keselamatan masyarakat akan terancam.

Massa perusuh hanya mengizinkan perwakilan aparat tanpa menggunakan senjata, sehingga bernegosiasi. Aparat pun mengirim 2 orang negosiator dari perwakilan TNI/POLRI tanpa membawa senjata.

Massa perusuh menuntut  6 orang massa perusuh, yang diamankan aparat, agar ditukar dengan 600 orang warga yang disandera dalam Honai dan Gereja. 

Baru Sekitar pkl 16.30 WIT 6 orang massa perusuh yang diamankan oleh Aparat keamanan dihadirkan di tengah-tengah untuk ditukarkan dengan 500 warga pendatang.

Proses penyerahan masih saja berlangsung alot meski pun 6 tersangka massa perusuh sudah dihadirkan untuk ditukar dengan warga.

Akhirnya terjadi proses pembebasan warga  yang dilakukan dalam 2 gelombang, sekitar pukul 17.00 WIT sekitar 400 orang anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang disandera di hadirkan utk diserahkan ke aparat kampung.

Kondisinya sangat mencekam sehingga banyak anak-anak dan ibu-ibu yang menangis ketakutan. karean itu mereka banyak  yang berdoa, sepertinya  ajal  sudah di depan mata.

Setelah gelombang pertama selesai dilaksanakan, berikutnya adalah  penyerahan 100 warga yang masih tertahan di dalam. 

Satu persatu warga melintasi blokade, dan disambut haru oleh keluarga yang menunggu di seberang blokade. Setelah itu mereka langsung dievakuasi ke dalam kendaraan.


0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama