Ada Apa Dengan Radikalisme ? Sampai Bikin Gaduh Se-Indonesia.


Oleh Helmi Adam

Semalam Serunya  diskusi ILC tentang Radikalisme yang memancing, perdebatan saya dengan anak anak di rumah. Apalagi dengan pernyataan prof Mahfud MD yang menyatakan bibit radikalisme dari kelas lima SD, harus diberantas. Hal ini mengundang banyak netizen berkomentar, dari yang dukung dan lebih banyak yang kontra.

Akhirnya  saya diskusi seru dengan kedua anak saya yang sudah kuliah. Dimulai dari kakaknya yang sulung yang sudah duduk di semester akhir di  Universitas Brawijaya jurusan Antropologi, Nama nya M. Rajesh Adam. Awalnya Rajesh mengatakan bahwa manusia bekas pecandu narkoba akan selamanya dicitrakan negatif, karena perbuatan negatif itu lebih mudah dikenang orang.

Kontan saja adiknya Raihan Adam yang kuliah di UPN, jurusan kedokteran umum, semester 3, membantah teori kakaknya. Dengan mengatakan, bahwa justru perbuatan baik yang dikenang orang, dia memberi sample pada Sukarno, Bapak proklamasi kita. Orang tutup mata dengan segala prilaku Sukarno, karena kebaikan nya.

Rajesh pun tak mau kalah memberikan contoh  contoh, pada teman di sekitarnya. Hal ini lah yang menarik bagi saya untuk menjelaskan teori keduanya. Yang jelas tidak ada yang salah, dari teori yang mereka kemukakan, tergantung bagaimana sample diambil, dan populasi serta kerangka berfikirnya, Apakah kuat atau tidak ? Maklum Rajesh sedang meneliti di Rawabelong, masyarakat betawi, sedangkan Raihan sedang mengambil mata kuliah research di kampusnya. Jadi saya harus menjelaskan dari A sampai Z agar keduanya mengerti.

Secara sederhana saya menjelaskan masalah ini dengan contoh yang paling popular saat ini yaitu Radikalisme. Konsep radikal bisa dipandang dalam dua sisi yaitu sisi Positif jika kita memaknai Radikal dari pengertian dasarnya yaitu dari kata radix atau akar, orang yang berpegang pada prinsip.

Indische Partij (IP). Dimotori oleh Douwes Dekker adalah seorang Indo yang berganti nama Setiabudi, IP merupakan partai politik pertama di masa jajahan yang diresmikan pada 6 September 1912. Dari sisi gerakan kebangsaan, arti penting IP terletak pada ketegasan sikapnya: menuntut Indonesia merdeka. Pemerintah kolonial menudingnya sebagai organisasi radikal di tengah kebijakan Politik Etis yang berlanggam Kalem kala itu. Sebaliknya, label Radikal menandakan IP bergaris politik keras. Untuk kasus ini Radikal memiliki makna Positif bagi Indonsia, dan makna negatif bagi belanda.

Jadi dalam memandang radikalime tergantung paham yang kita pegang. Jika kita sepakat dengan pancasila, maka kita harus memegang prinsip pancasila dalam kehidupan bernegara dan berabangsa. Untuk kita harus berani mengubah secara radikal, yang bertentangan dengan pancasila.

Kita harus berani melawan radikalisme liberal, Radikalisme Agama, dan Radikslisme komunis. Sehingga kita bisa disebut dengan radikalisme pancasila. Bukan hanya bisa bicara, NKRI harga mati, atau saya pancasila atau Saya Indonesia, tapi kenyataan nya kita menggunakan ekonomi liberal, kenyataannya menggunakan demokrasi liberal, jadi apanya yang pancasila ?

Kedua anak saya terdiam, sayapun melanjutkan, bahwa Cap Radikal jika hanya menggunakan kamus politik, maka kebenaran tentang radikal adalah kebenaran sudut pandang penguasa. Sehingga penguasa lah yang akan menentukan radikal nya sebuah paham, seperti belanda menganggap indische partij radikal. Agama, komunisme, liberalism bisa dikatakan radikal tergatung sudut pnadang pennguasa. 

Berbeda dengan radikal dalam pengertian ekonomi, yang bisa  dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Sehingga jika kita katakan, kita menganut ekonomi pancasila, maka akan ditertawakan masyarakat, karena pancasila tidak seratus persen menyerahkan pada mekanisme pasar. 

Itulah mengapa kita sebagai peneliti harus memiliki landasan yang kuat agar ketika kiat menyimpulakan sesuatu ada dasarnya, karena penelitian bukan politik. Sehingga dosa besar jika kita menggunakan penelitian demi kepentingan politik, akhinya kita jadi Bal am, seorang pelacur akademis ..Kok bisa ya ? panjang lagi ceritanya,







0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama