Dokter Komunis Bisa Menyembuhkan, Dokter Muslim ?



In Memoriam H. Mochtar Sum

Malam panjang ini saya manfaatkan belajar Tasawuf sama Kyai kampong saya.

Saya masih banyak pertanyaan yang menggelitik dikepala saya yang kotor ini. Akibat ghozul fikri dari belajar begitu banyak ilmu di masa kuliah, tapi tiadak diringi pemahaman islam yang memadai. Sehingga sering hati dan pikiran merasa dengki, iri, hasad, hasut, syak wasangka, hinggap di kepala saya.

Saya pernah kuliah, S1 di Univ. Ibnu Chaldun Jakarta, IKIP Jakarta, STF Dryakara Jakarta, dan saya pernah kuliah S2 di IKIP Jakarta, di  IMNI Jakarta, Univ. Bhayangkara Jakarta, dan S3 Di Universita Borobudur. Blum lagi saya pernah kuliah di Jepang selama 6 bulan belajar tentang Broadcasting.

Untungnya saya sempat belajar juga Di Akademi kajian Islam Ar Risalah milik Almarhum Prof. Deliar Noer, Sehingga masih bisa memfilter Pemikiran pemikiran Agust Comte, Hebermas, Nizche, dll.

Wajar jika saya mengajukan pertanyaan ini kepada Kyai Saya waktu itu, 

“Mana yang lebih baik, pemimpin Islam Tapi Dzolim atau Pemimpin Kafir tapi Adil ?”
Sang kyai menatap teduh mata saya “ Astaghfirullah “ itulah keluar yang pertama drai mulutnya.

Saya heran, “ Mengapa Istighfar pak Kyai ?”

“Istighfar saya nak, karena begitu buruknya prasangka kamu terhadap Umat Islam “.

“Loh kok Gitu pak Kyai, Bukankah Selama ini banyak yang seperti itu “ tanyaku tanpa pikir panjang.

“ Pertanyaan yang anak Ajukan pilihan Buruk dua duanya, seolah olah tiadka ada orang Islam yang baik, karana berawal dari pikiran yang introvert, rendah diri akhirnya mudah terjebak dalam Islam yang jahiliyah. Seolah olah orang islam itu Jahil semua” jawab pak kyai menjelaskna kepada saya.

“ sama dengan pertanyaan jamn dulu, orang kuliah dicina, bertanya pada yai, “ klau ada dokter islam tapi tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi ada dokter Cina komunis, dia pinter dan bisa menyembuhkan penyakit. Kamu pilih mana” Tanya Pka kyai dnegan kalimat retoris, saya diam saja.

“Pertanyaan itu selain memberikan pilhan buruk dua duanya tapi mengandung kesyirikan !” Kata pak kyai dengan senyumny yang tenang bak telaga biru.

“Kok Bisa?” tanyaku kurang faham.
“ begini nak, Pertanyaan tu selain memberikan piliahn buruk juag memiliki prasangka Buruk, seolah olah tidak ada dokter muslim yang pinter, arasangka itu muncul karena kita banyak belajar dari ilmuan sekuler saat ini. Sehingga kita terkagum kagum dengan ilmuan sekuler tersebut, yang menimbulkan “inferiority complex” bagi umat islam, Padahal sebelumnya mereka belaja dari ilmauan Islam. “
katanya.

“ yang membedakan ilmuan muslim denagn mereka adalah katahudanya. Sehingga seorang dokter komunis menganggap dia yang menyembuhkan penyakit, padahal mereka hanyalah perantara semata, hanya allah ayng menyembuhkan . Sama seperti kyai yang tidak belajar kedokteran, kok bisa menyembuhkan penyakit ?, karena sebenarnaya memang taqdirnya harus sembuh melalui doa sang Kyai “ ujarnya menenangkan hati saya yang gelisah.

Jika ini bermanfaat sebarkan link ini..terima kasih
Jum at barokah

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama