Jerman Masuk Resesi Ekonomi Hari ini, Dampaknya Apa ?

finansial Indonesia memerah pada perdagangan Rabu (13/11/19), sentimen pelaku pasar  Asia memburuk, merespon pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hari Selasa.

Pidato Trump tersebut,  direspon bagus di pasar AS, terbukti dari bursa saham AS yang mampu kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Berbeda dengan yang terjadi di pasar Asia, pidato tersebut membuat sentimen pelaku pasar memburuk, aset-aset berisiko berguguran, dan rupiah terkena imbas negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,62% ke level 6.142,5, rupiah juga melemah 0,19% ke Rp 14.077/US$.
Tidak ketinggalan obligasi Indonesia juga berakhir di zona merah dalam tiga hari beruntun. Yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun naik 1,8 basis poin ke level 7,068%.

Presiden Trump dalam pidatonya di acara Economic Club of New York menyebut China "curang" dalam kesepakatan dagang di era presiden-presiden AS sebelumnya.

"Sejak China masuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 2001, tidak ada negara yang memanipulasi atau memanfaatkan Amerika Serikat sebaik China. Saya tidak akan mengatakan "curang", tapi tidak ada yang lebih curang dari China, saya akan mengatakan itu" kata Trump dalam acara Economic Club of New York.
Meski memberikan pernyataan keras, tetapi Trump tidak menyalahkan China, ia justru menyalahkan presiden-presiden sebelumnya yang melakukan negosiasi perdagangan dan membiarkan AS dimanipulasi.

Selain menyentil China, dalam kesempatan kali ini Trump juga menyerang Uni Eropa. "Banyak negara mengenakan kita bea masuk yang sangat tinggi atau menciptakan hambatan dalam perdagangan. Dan saya akan jujur, Uni Eropa, sangat, sangat sulit. Hambatan perdagangan yang mereka buat sangat mengerikan, dalam banyak hal mereka lebih buruk dari China" ujar Trump.

Serangan terhadap Uni Eropa terjadi beberapa saat setelah adanya kabar yang menyebutkan Trump akan menunda kenaikan bea masuk otomotif dari Benua Biru selama enam bulan. Kini kabar tersebut kembali diragukan dan AS bisa jadi akan menaikkan bea masuk otomotif dari Uni Eropa yang tentunya bisa memicu babak baru perang dagang.

Sentimen dari dalam negeri diperburuk dengan adanya bom di Medan yang membuat kondisi dalam negeri terlihat kurang kondusif bagi investor.
Rabu pagi tadi, terjadi ledakan di Polrestabes Medan. Ledakan tersebut diduga berasal dari bom bunuh diri.
Bursa saham AS (Wall Street) menghijau lagi pada perdagangan Rabu kemari, ketika indeks utama silih berganti mencetak rekor tertinggi. Terus menguatnya Wall Street mengabaikan fakta hubungan AS dengan China yang kembali merenggang. 

Kali ini giliran Dow Jones dan S&P 500 yang mencetak rekor tertinggi, kedua indeks tersebut menguat 0,3% dan 0,1% ke 27.783,59 dan 3.094,04. Sementara indeks Nasdaq melemah tipis 0,05% ke level 8.482,1. 

Kinerja apik emiten menjadi pemicu penguatan Dow Jones, saham Disney melesat 7,35% setelah mengumumkan layanan streaming terbarunya, Disney telah mencapai 10 juta subscriber sejak dirilis Selasa lalu. Berkat kenaikan 7,35% tersebut, kapitalisasi pasar Disney bertambah lebih dari US$ 13 miliar menjadi US$ 268 miliar. 


Penguatan Wall Street bisa lebih tinggi lagi seandainya perundingan kesepakatan dagang AS-China berjalan mulus.

Selain itu, testimoni ketua The Fed, Jerome Powell, di hadapan Kongres AS juga menjadi perhatian para investor. Sesuai dengan perkiraan, Powell menegaskan tidak lagi memangkas suku bunga kecuali perekonomian AS memburuk. 

The Fed sudah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin hingga menjadi 1,5-1,75%. Pemangkasan suku bunga tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Wall Street terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Dalam satu bulan terakhir, indeks Dow Jones menguat 3,6%, S&P 500 4,2%, dan Nasdaq memimpin sebesar 5,3%.

Eropa  mengirim kabar buruk pada hari ini. Motor penggerak perekonomian Benua Biru, Jerman, diprediksi akan mengalami resesi. 

Pada kuartal II-2019, perekonomian Jerman berkontraksi 0,1% quarter-on-quarter (QoQ). Sementara untuk data kuartal III-2019 yang akan dirilis hari ini, hasil survei Reuters menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jerman diprediksi berkontraksi 0,1% atau sama dengan kontraksi yang dialami kuartal sebelumnya. 

Jika prediksi tersebut benar, maka Jerman akan mengalami resesi untuk pertama kalinya sejak tahun 2013. Resesi yang dialami raksasa ekonomi Eropa tentunya bukan kabar bagus, ketika sang raksasa lesu, tentunya rantai perdagangan dari dan ke Eropa menjadi tersendat.

Pertumbuhan ekonomi Eropa pun diramal akan menurun drastis. Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) memprediksi perekonomian Eropa hanya tumbuh 1,4% di tahun ini, turun jauh dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 2,3%. 

Berbagai sentimen terbaru tersebut membuat pasar finansial dalam negeri mendapat tantangan yang berat untuk bisa menguat pada perdagangan hari ini.
 

0/Post a Comment/Comments

Terima Kasih

Lebih baru Lebih lama